TOTTO-CHAN: THE LITTLE GIRL AT THE WINDOW
Hal di atas jadi satu-satunya kekurangan (minor) Totto-Chan: Gadis Kecil di Jendela. Sisanya adalah presentasi indah mengenai kehidupan. Bagaimana hidup sungguh berat, khususnya pada masa perang, namun Totto-Chan dan kawan-kawan selalu menemukan cara untuk tersenyum berkat kepolosan mereka. Hal-hal sederhana seperti menginap bersama di sekolah guna menunggu kedatangan gerbong kereta bekas yang Pak Kobayashi pakai sebagai pengganti ruangan nyatanya bisa menghasilkan kebahagiaan.
Tawa bahagia para bocah dalam ruang aman yang memberi mereka kebebasan mampu menciptakan pemandangan menyentuh, apalagi saat musik kaya rasa gubahan Yuji Nomi selalu mengiringi. Pun sebagai sutradara, Shinnosuke Yakuwa tahu betul cara mengaduk-aduk hati penonton. Contohnya tiap Totto-Chan: Gadis Kecil di Jendela beralih sejenak dari realisme, menuju momen sureal (dengan gaya animasi berbeda-beda di setiap adegan) yang mewakili indahnya imajinasi anak-anak.
Bahasa visual memang merupakan keunggulan terbesar Yakuwa, yang membuat filmnya piawai menyampaikan pesan dan rasa melalui teknik non-verbal. Lihat adegan saat Pak Kobayashi diam-diam mengamati tindak-tanduk murid-muridnya dari jendela, atau pemandangan indah sekaligus menyakitkan di babak ketiga kala Totto-Chan berlari melintasi kota, mewakili proses tumbuh kembangnya yang memperkenalkan konsep kematian serta kehilangan.
Perjalanan kedewasaan tersebut ditutup secara begitu menyentuh lewat satu kalimat hangat. Di situ kita menyaksikan Totto-Chan yang sudah lebih dewasa, yang paham betul rasa sakit dari kebencian-ujaran kebencian, memberikan cinta sebagaimana pernah ia dampakkan. Indah.
Goresan warna lembut dengan garis putus-putus yang mencerminkan keindahan di balik ketidaksempurnaan hidup melatari dunia tempat kita diperkenalkan dengan gadis cilik bernama Totto-Chan. Perang Dunia II mulai menyelidiki, tapi ada masalah yang lebih dekat tengah dialami Totto-Chan. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sulit diatur. Sebutan "biang masalah" pun sering didapat, tapi secara tersirat kita tahu ia bukan sebatas bocah nakal, melainkan pemilik ADHD.
Sampai sang ibu menemukan sekolah baru bagi Totto-Chan, yakni Tomoe Gakuen milik Pak Kobayashi. Di sanalah Totto-Chan bertemu teman-teman yang juga dianggap berbeda, termasuk Yasuaki si pengidap polio, dan rutinitas mereka menjadi landasan alur film ini. Naskah buatan sang sutradara, Shinnosuke Yakuwa, bersama Yōsuke Suzuki bercerita secara episodik, menghasilkan lompatan-lompatan yang cenderung kasar antar peristiwa.






0 komentar:
Posting Komentar