FURIOSA: A MAD MAX SAGA
Bagaimana cara mengungguli dua jam kejar-kejaran mobil epik berlatar padang tandus dengan jagoan perempuan tangguh serta barisan karakter unik bernama Mad Max: Fury Road (2015)? Jawabannya “tidak ada”. Furiosa: A Mad Max Saga yang bertindak sebagai prekuel bukanlah mahakarya serupa pendahulunya, namun tetap suguhan aksi bertenaga, yang membuktikan bahwa bagi sang sutradara usia hanyalah sebuah angka.
Tatkala banyak sineas blockbuster muda zaman sekarang terlampau bergantung pada manipulasi komputer, George Miller yang sewaktu memasuki masa produksi sudah menginjak 77 tahun menunjukkan bagaimana adegan aksi seharusnya diarahkan dengan segenap jiwa dan raga.
Fury Road bak Miller memanfaatkan embel-embel "Mad Max" agar bisa dengan mudah membuat film dengan jagoan utama perempuan. Hasilnya luar biasa. Furiosa kini dicintai penonton modern layaknya Max di mata masyarakat 80-an. Di sini kita bakal melihat proses yang dilalui si jagoan sebelum menyandang gelar "Imperator".
Furiosa kecil (Alyla Browne) terpisah dari sang ibu (Charlee Fraser) setelah diculik oleh Dementus (Chris Hemsworth) beserta pasukan geng motor pembohongnya. Kehidupan berat di tanah tandus menggembleng Furiosa, membuatnya tumbuh menjadi perempuan dewasa yang kuat (Anya Taylor-Joy), dan bekerja untuk Immortan Joe (Lachy Hulme). Namun demikian Furiosa bukanlah budak siapa pun. Dia hanya ingin bebas, untuk kemudian pulang seperti janjinya kepada sang ibu.
Furiosa punya cara bercerita yang lebih konvensional dibandingkan Fury Road. Ketimbang mengembangkan cerita seiring aksi kebut-kebutan, kini naskah yang ditulis Miller bersama Nico Lathouris sesekali menghentikan pacuan gas guna menyediakan ruang bagi cerita untuk berkembang.
Keunikan cara tuturnya mungkin tak lagi dipunyai film ini, tapi setidaknya Furiosa berhasil memunculkan keserasian dengan Fury Road. Timbul kesan bahwa keduanya memang merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebuah cerita besar mengenai perjalanan panjang protagonisnya mencari jalan pulang.
Kesan tersebut semakin menguat karena Miller dan Lathouris tidak luput melengkapi detail semesta Mad Max. Tempat-tempat yang sebelumnya cuma terdengar namanya seperti Bullet Farm dan Gas Town akhirnya berkesempatan kita kunjungi, meski sayangnya, secara desain artistik tak ada yang benar-benar membedakan keduanya. Sebatas lokasi industri usang di tengah padang gersang.
Selama durasi 148 menit, filmnya melemparkan berbagai macam penderitaan ke arah Furiosa, baik yang bersifat fisik maupun psikologis, sebagai penegas betapa mematikan kehidupan di Wasteland. Berat, namun mereka berhasil bertahan bakal menjadi individu tangguh. Furiosa termasuk salah satunya, yang dihidupkan oleh persona sarat karisma milik Anya Taylor-Joy, sementara Chris Hemsworth tampak bersenang-senang memerankan antagonis sinting yang membantai manusia hanya untuk merasakan pacuan adrenalin.
Miller boleh saja tidak menginjak pedal gas sesering di Fury Road, tapi penyutradaraannya yang jeli mengatur timing (kapan seseorang jatuh menghantam tanah, kapan senjata tajam membelah tubuh korban, kapan lesatan peluru menembus area vital, dll.) benar-benar memberi energi tingkat tinggi bagi Furiosa. Belum lagi ditambah raungan musik buatan Tom Holkenborg.






0 komentar:
Posting Komentar