Senin, 24 November 2025

MENJELANG AJAL

 MENJELANG AJAL


Suatu hari nanti, pada waktu yang tepat, saya sekuel Rumah Dara akan dibuat, dan penampilan Shareefa Daanish sebagai Ibu Dara yakin akan ramai dibicarakan. Entah kapan "suatu hari nanti" tiba. Tapi untuk saat ini, nikmati saja dulu pertunjukan tunggal sang aktris, yang mampu mengangkat kualitas sebuah film horor seorang diri, sebagaimana yang sering ia lakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Di Menjelang Ajal, Shareefa memerankan Sekar, ibu dari tiga anak: Dani (Daffa Wardhana), Ratna (Caitlin Halderman), dan Dodi (Shakeel Fauzi). Sekar menempati cukup keras pada anak-anaknya. Dia mengusir Dani dari rumah karena si putera sulung menolak berkuliah dan ngotot ingin memilih jalan hidupnya sendiri. Dia tegur pula Ratna yang masih SMA, karena diantar pulang oleh laki-laki lebih tua. 

Menurut Sekar, ia hanya ingin anak-anaknya sukses, berbeda dengan dirinya yang hanya membuka warung makan. Masalahnya Sekar bukan sekedar menjalankan bisnis kuliner. Dipakainya ilmu penglaris yang dipasang oleh dukun bernama Mak Ambar (Dewi Pakis). Sampai suatu ketika, tiba-tiba pengunjung warung makannya sepi selama berbulan-bulan, dan pada saat yang sama kondisi fisik serta perilaku Sekar pun menjadi aneh.

Satu hal subtil yang saya apresiasi dari naskah buatan Deni Saputra adalah ketiadaan figur jahat di sini, kecuali sosok setan yang merasuki Sekar (ia hadir karena dipanggil dan hanya murka akibat dilakukannya sebuah perjanjian). Tidak ada orang jahat, tidak ada dendam kesumat, tidak ada permusuhan, tidak ada upaya menghancurkan kehidupan. Hanya ada kisah mengenai manusia yang terkena dampak tindakannya sendiri. 

Penceritaan di paruh pertama bergulir apik sekaligus merupakan fase terbaik Menjelang Ajal. Di situlah timbul misteri seputar gangguan yang dialami Sekar, disertai potret menarik terkait dunia klenik dalam lingkup bisnis kuliner. Babak-babak berikutnya tak pernah kembali mencapai hal itu, namun Dedi Saputra memastikan bahwa naskahnya memang mengandung sesuatu untuk diceritakan, alih-alih sekadar menjembatani penampakan-penampakan hantu.

Peristiwa yang judulnya dijanjikan pun berhasil digambarkan, tatkala kita melihat sulitnya Sekar menyambut ajalnya, dan mengalami berbagai rekonstruksi fisik. Sementara luka psikis karakter-karakternya tidak begitu kuat karena minimnya eksplorasi. Padahal ada potensi untuk menghadirkan drama menggigit seputar ketidaksempurnaan seorang ibu. Seorang ibu juga bisa berdosa. Seorang ibu tidak selalu benar. Seorang ibu juga bisa salah menilai darah dagingnya. Tapi bukan berarti tiada kasih sayang. 

Terkait kualitas teror, sayangnya Hadrah Daeng Ratu selaku sutradara belum mampu mengulangi kengerian Pemandi Jenazah beberapa waktu lalu. Pendekatan atmosferik menunjukkan gambar-gambar mengerikan yang digantikan oleh jumpscare generik berbalut tata suara berisik. Untunglah kuantitas penampakannya tidak seberapa tinggi, disokong elemen gore yang cukup menyenangkan, dan tentunya tertolong oleh transformasi Shareefa Daanish.
“Aktor menjelma menjadi makhluk artistik yang mampu menghayatinya tanpa disadari sesuai gerak imajinasi”. Dahulu Shareefa pernah menulis kalimat tersebut di akun Instagram miliknya. Itu pula yang tampak di Menjelang Ajal. Caranya mengolah ekspresi dan gestur menampilkan wujud seni peran yang tidak hanya berusaha tampil seram, tapi memperhatikan nilai artistik.

0 komentar:

Posting Komentar