Selasa, 18 November 2025

FRANKENSTEIN (2025)

 FRANKENSTEIN (2025)


Frankenstein versi Guillermo del Toro bukan sebatas persetujuan atas penilaian mengenai sebutan "monster" bagi para makhluk berparas mengerikan. Jauh sebelum kisahnya berakhir, sang monster telah menyadari kemanusiaannya, namun sebaliknya, jika manusia memahami bahwa dialah keburukan yang sesungguhnya. Satu hal yang keduanya belum mampu mencapai: Menerima rasa sakit pembawa ketidaksempurnaan yang mendefinisikan kemanusiaan itu sendiri.

Rasa sakit adalah bukti kecerdasan. Setidaknya itu yang dipercaya oleh beberapa karakternya. Atas kecerdasan nama pula, Leopold Frankenstein (Charles Dance) mendidik putra sulungnya, Victor Frankenstein (Oscar Isaac), dengan keras, yang mendatangkan sakit fisik serta batin berkepanjangan bagi sang anak. “Tidak ada emosi dalam jaringan otot manusia”, ucap Leopold. Sejak kecil, Victor telah dikondisikan untuk menampik kemanusiaan. 

Dinamika ayah-anak tersebut kita saksikan dalam bentuk kilas balik pasca adegan pembukanya yang cantik. Lanskap kutub utara yang membaurkan warna-warna khas del Toro (hijau, oranye, merah), ditangkap oleh sinematografi Arah Dan Laustsen guna mencuatkan keindahan di sela-sela kegelapan. Sesosok monster yang disebut "The Creature" (Jacob Elordi) menginvasi kapal angkatan laut Denmark yang terperangkap di danau es untuk mencari keberadaan penciptanya, Victor.

Dari situlah alurnya mengungkap dua sisi cerita, mengajak penonton memahami perspektif sang pencipta dan ciptaannya. Salah satunya mengenai motivasi Victor "bermain Tuhan" dengan membuat monster dari gabungan mayat-mayat dengan sokongan dana dari Henrich Harlander (Christoph Waltz) si pedagang senjata. Semua bermula dari kehilangan pahit tatkala sang ibu, Claire Frankenstein (Mia Goth), meninggal setelah melahirkan anak keduanya, William (Felix Kammerer). Victor berhasrat mencatat kematian. 

Kali pertama kita bertemu Claire, ia mengenakan gaun merah dengan kain yang melambai-lambai tertiup angin. Anggun sekaligus agung. Mia Goth juga memerankan karakter lain, yakni pertunangan William, Elizabeth Harlander, dan kostum-kostum buatan Kate Hawley lainnya turut memancarkan kemewahan elegan saat ia dikenakan. Desain produksi yang menghidupkan dunia para bangsawan dari abad-19 dengan segala benda seni klasiknya, pula musik beraroma dongeng kelam gubahan Alexandre Desplat, menyempurnakan Frankenstein sebagai pengalaman audiovisual kelas satu.

Di permukaan, Frankenstein sejatinya terasa familiar, mengingat kisah seputar makhluk hidup yang eksistensinya disalahartikan sudah berkali-kali diangkat oleh del Toro. Keunikannya baru muncul begitu kita mengupas kulit luarnya. Novel karya Mary Shelley dikembangkan, tidak lagi (hanya) soal menampik prasangka, pula membahas dinamika ayah dan anak.

Karakter Victor Frankenstein si "ilmuwan gila" ditelaah lebih lanjut. Psikisnya berbeda, untuk menampilkan dampak dari ketidakhadirannya cinta ayah bagi seorang anak. Victor membenci ayahnya, namun tanpa sadar mewarisi pola asuh kejamnya, kemudian menularkan luka, serupa dengan ia alami semasa kecil kepada The Creature sebagai "putranya". Trauma lintas generasi pun terjadi, yang membuat si anak acap kali mengutuk kelahirannya di dunia.

Guillermo del Toro menggerakkan alur dalam tempo yang mengutamakan sensitivitas, membiarkan penonton mengamati luka tiap karakter, terutama The Creature yang membawakan Jacob Elordi bertransformasi, baik dari segi fisik maupun psikologis. 

Melalui naskahnya, del Toro mengemas film ini bak kesusastraan klasik yang jadi sumber adaptasinya, membuat jajaran karakternya bertutur serupa pujangga yang menumpahkan kata-kata puitis yang terlalu bernapas. “Aku akan menjadi elang yang berpesta di hatimu” (referensi ke hikayat Prometheus) atau “Dalam mencari kehidupan Aku menciptakan kematian” jadi beberapa contoh. Diiringi untaian kalimat indah tersebut, dua protagonisnya melakoni perjalanan eksistensial untuk berdamai dengan dosa orang terkasih, juga dengan ketidaksempurnaan diri sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar