Selasa, 18 November 2025

JOKER: FOLIE À DEUX

 JOKER: FOLIE À DEUX


Joker: Folie à Deux memberi bukti bahwa kesan "berbeda" tidak selalu berdampak positif bagi kualitas suatu film. Lima tahun pasca Joker sukses membuat proses seorang komedian bergulat dengan krisis batinnya menjadi fenomena budaya populer, kini Todd Phillips seolah terjebak dalam kondisi yang mirip dengan si karakter. Phillips yang selama ini dikenal cerdik menulis komedi, seperti dihantui ambisi untuk menunjukkan bahwa dirinya layak mendapat cap "auteur".
Phillips pun berani mencampurkan beragam genre secara liar, dari drama psikologis, romansa, film penjara, drama ruang sidang, hingga yang paling nyeleneh, musikal. Begitu besar ambisi sang sineas untuk menjauh dari pakem sekuel Hollywood, ia sampai melupakan satu hal esensial: membuat film bagus. Tidak satupun elemen dari berbagai genre di atas mampu ia terjemahkan menjadi tontonan menarik. 

Selepas kekacauan yang ia buat, Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) kini mendekam di rumah sakit jiwa Arkham. Dia tengah menantikan konferensi, di mana sang pengacara (Catherine Keener) berusaha membantu Arthur lolos dari hukuman mati dengan dalih gangguan jiwa. Bahwa sejatinya Arthur memiliki kepribadian ganda, salah satunya adalah persona Joker, selaku figur yang bertanggung jawab atas segala kejahatan.
Bukankah ada kepribadian lain dalam diri Arthur? Dia sendiri bergumul dengan pertanyaan itu. Tapi satu yang pasti, Arthur masih sesekali memandang dirinya sebagai bintang yang bersinar di atas panggung pertunjukan. Payung-payung hitam para polisi berubah jadi warna-warni bak properti musikal di kepalanya. 

Joker: Folie à Deux memang lebih menyoroti apa yang ada di kepala protagonisnya. Naskah yang ditulis Todd Phillips bersama Scott Silver pun hanya menggunakan segelintir lokasi. Sebagian besar filmnya mengambil latar sudut-sudut Arkham yang kelam, sambil sesekali berpindah ke ruang sidang. Ketika di realita ia cenderung stagnan, Arthur lebih banyak "berpetualang" di dalam pikirannya.
Di saat mayoritas sekuel cenderung berusaha tampil lebih besar, pilihan tersebut sebenarnya merupakan pendekatan anti-blockbuster yang unik. Sayangnya Phillips seolah berpikir sampai di situ. Sebatas menginginkan filmnya terlihat berbeda, tahu tanpa bagaimana mengembangkannya dengan baik. 

Muncul harapan tatkala narasinya memperkenalkan Harleen "Lee" Quinzel (Lady Gaga) ke atas panggung. Joker dan Lee berpotensi membawa dinamika destruktif yang menarik, khususnya sejak kita melihat keduanya berdansa di hadapan kekacauan yang membara yang mereka ciptakan sendiri. Tapi apa daya, naskahnya bak kebingungan harus bagaimana mengarahkan lampu sorot ke arah Harley Quinn.
Tidak ada yang salah dalam hal akting. seperti Phoenix yang masih memukau, terutama soal kemampuannya menarik garis batas antara perangai Arthur dan Joker, lewat perbedaan kepercayaan diri yang dibawakan secara luar biasa, Gaga pun mulus bertransformasi sebagai sesosok "perempuan gila". Hanya saja Phillips tidak tahu cara memaksimalkan kualitas aktrisnya.

Begitu juga terkait elemen musikal. Fokus terhadap isi pikiran Arthur nyatanya juga diterapkan pada musikalnya, yang sebagian besar hanyalah imajinasi sang protagonis. Masalahnya isi kepala Arthur tidak jauh dari dilema seputar persona Joker dan hasratnya menjalin asmara dengan Lee. Berulang-ulang. Demikian pula pengarahan Phillips yang terlalu mengandalkan siluet dan latar hitam monoton.
Nomor musikalnya terasa melelahkan bak nyanyian memperkenalkan tidur akibat miskinnya kreativitas sang sineas. Hanya Akan Membangun Gunung yang dikemas penuh tenaga. Sisanya, Phillips seperti terjebak dilema antara melangkah secara total menuju kemeriahan musikal, atau bertahan di kesan membumi yang jadi identitas film pertama. 

Belum lagi, karena kebanyakan hanya mewakili imajinasi karakternya, rangkaian musikal Joker: Folie à Deux pun tidak berkontribusi terhadap banyak penceritaan. Tidak lebih dari sempilan video klip karaoke melainkan alat untuk memperkuat cerita. 

Sesungguhnya ada setumpuk gagasan brilian yang tersimpan di sini, termasuk bagaimana menyindir kita sebagai penonton, yang memuja kekacauan dan kekerasan, ketika secara tidak sadar, sepanjang 138 menit filmnya, mengharapkan Arthur mengungkapkan kebohongannya demi mendapatkan hiburan.


0 komentar:

Posting Komentar