Sabtu, 15 November 2025

WE LIVE IN TIME

 WE LIVE IN TIME


Hubungan percintaan tak mengubahnya sebuah cerita. Ada fase di mana dua sejoli bertemu lalu mengawali kisah mereka (babak pertama), puncak dari segala naik-turun dinamika ketika pasangan berjuang mencapai tujuan (babak kedua), dan penghujung jalan tatkala perjalanan harus berakhir apa pun logika (babak ketiga). We Live in Time menampilkannya, tapi tidak secara linier. Sehingga alih-alih mengikuti proses tahap demi tahap, kita diajak melihat satu kanvas besar penuh yang menampilkan lukisan indah kaya warna.

Tobias (Andrew Garfield) bekerja di perusahaan sereal, sementara Almut (Florence Pugh) merupakan chef di restoran berbintang Michelin miliknya. Sangat berlawanan, namun bukan berarti keduanya sukar bersatu. Bahkan ketika perbedaan tujuan sempat menyeruak (tidak seperti Almut, Tobias ingin mempunyai anak) mereka tetap bersama. Naskah buatan Nick Payne mengingatkan pentingnya kompromi dalam "hubungan serius". 

Kemajuan zaman juga membuat genre romansa berevolusi. Kini ia sering dipakai sebagai media untuk mengolah beragam isu, hingga yang paling sensitif sekalipun. Perkembangan tersebut bersifat positif, namun tetap saja ada kerinduan akan kisah cinta sederhana, yang "hanya" menampilkan dua manusia bendera hijau tengah memadu kasih. Tidak ada laki-laki misoginis, perselingkuhan, kekerasan, atau kebejatan yang disembunyikan.

Dua pemeran utamanya menghidupkan pasangan baik hati tersebut dengan baik. Andrew Garfield sebagai Tobias yang seringkali agak canggung, Florence Pugh sebagai Almut yang penuh percaya diri. Keduanya terjadi chemistry manis sambil melakoni tiap momen secara natural, sehingga turut berhasil meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar tengah jatuh cinta. 

Sayangnya, penyelesaian apa pun cinta pasangan ini, mereka tetap tak kuasa mengalahkan kanker ovarium yang menjangkiti Almut. Dari situlah alurnya membentuk format non-linear yang terus melompat antara tiga masa: awal pertemuan dua karakternya, ketika mereka berupaya memiliki anak, dan latar sekarang setelah Almut muncul mengidap kanker stadion 3.

Lompatan-lompatan waktu di atas bak usaha Tobias dan Almut untuk melawan waktu, dengan menjalani kembali pengalaman-pengalaman indah dari masa lalu yang muncul dalam bentuk kilas balik memori. Di sisi lain, karena tidak melihat perjalanan protagonisnya secara linier, seperti satu lukisan di atas kanvas, mudah bagi penonton untuk mendapatkan potret lengkap tentang hubungan mereka. 

Ya, We Live in Time memang sebuah pembuat air mata dengan penyakit kronis sebagai salah satu amunisi utama guna menjatuhkan air mata. Tapi di bawah Arahan John Crowley sebagai sutradara, filmnya menghindari pendekatan yang tampil melankolis secara berlebihan dan murahan. Sederhananya, ia adalah "tearjerker yang elegan".

0 komentar:

Posting Komentar