Senin, 24 November 2025

IMMACULATE

 IMMACULATE


Hanya memakan waktu sekitar satu bulan, The First Omen dan Immaculate, dua horor dengan premis serupa (suster Amerika datang ke Italia, kemudian terjebak alur yang melibatkan bayi iblis) dirilis secara bergiliran, menambah jumlah film kembar yang telah terjadi sejak lebih dari satu abad lalu. Penyelewengan ajaran agama dengan segala ritual, gambaran mengerikan, serta entitas tak terlihatnya memang santapan lezat bagi sineas horor.
Perbandingan antara kedua judul jelas mustahil dihindarkan. Apalagi saat di sini kita mendapati Suster Cecilia (Sydney Sweeney) juga memiliki teman seorang suster "nakal" bernama Gwen (Benedetta Porcaroli). Di biara yang ia datangi atas ajakan pendeta Sal Tedeschi (Álvaro Morte), Cecilia bertugas merawat para suster senior yang telah mendekati akhir hayat mereka. 
Tidak butuh waktu lama bagi Cecilia untuk menyadari ketidakberesan di biara tersebut, di mana beberapa suster tampak aneh. Bukan hanya itu, suatu hari Cecilia diinterogasi oleh Kardinal Franco Merola (Giorgio Colangeli) perihal keperawanannya. Dari situlah naskah buatan Andrew Lobel mulai pelan-pelan menebar remah-remah yang membangun pesan mengenai isu gender.
Cecilia merepresentasikan perempuan yang terkekang dalam penjara bernama "peran gender". Sebagai perempuan ia dituntut bertindak santun, berlaku suci, lalu hanya diminta mengandung dan melahirkan bayi. Tentu kalau bisa bayi laki-laki, yang diharapkan akan menjadi figur penting di masa depan.  
Jadilah 89 menit durasi Immaculate membentuk proses perempuan lepas dari kekangan "setan". Tidak hanya setan bertanduk dari neraka, tapi juga mereka yang berkontribusi melanggengkan peran destruktif gender tersebut, baik itu penguasa laki-laki maupun sesama perempuan.
Di antara penelusuran tersebut, filmnya menyelipkan deretan jumpscare yang dieksekusi secara umum oleh Michael Mohan selaku sutradara. Populasinya hanyalah penampakan Minim dampak. Beberapa kali Mohan coba menerapkan pembangunan lambat bagi jumpscare-nya, namun daripada terasa mencekam, justru kesan draggy yang didapat akibat kurangnya kemampuan sang sutradara menyusun atmosfer.
Immaculate malah mampu tampil menyentak saat tidak berusaha terlalu keras menggedor jantung. Tengok saat seorang suster tewas akibat jatuh dari lantai atas. Tanpa musik menggebrak namun lebih menggigit, dan menariknya, lebih mengagetkan. Kuncinya ada di timing. Mohan berhasil membuat penonton lengah di momen tersebut. 
Sentuhan kekerasannya yang cukup brutal pun memberi daya hibur tambahan, yang turut membuka jalan bagi konklusi memuaskan tatkala kita menyaksikan si perempuan akhirnya meruntuhkan tali kekang yang merenggut kebebasannya. Di situ pula totalitas ledakan akting Sydney Sweeney memberikan kontribusi besar, seolah membuktikan bahwa keputusannya membeli hak cipta naskah Immaculate, lalu memproduserinya sendiri, merupakan langkah tepat.

0 komentar:

Posting Komentar