Sabtu, 22 November 2025

AMAR SINGH CHAMKILA

 AMAR SINGH CHAMKILA


Amar Singh Chamkila adalah film biografi mengenai penyanyi legendaris dengan julukan "Elvis dari Punjab", yang juga dianggap kontroversial karena lirik-lirik nakal buatannya, yang menyentuh hal-hal seperti konsumsi narkoba, mabuk-mabukan, hingga aktivitas seksual. Publik membenci sekaligus membencinya.

Imtiaz Ali selaku sutradara dan penulis naskah (bersama Sajid Ali) mencoba menggali kenakalan tersebut secara lebih mendalam. Bahwa mungkin saja itu bukan semata hiburan yang dipaparkan, melainkan gambaran realita yang paling nyata, dan kematian Chamkila akibat terjangan timah panas juga mewakili represi terhadap kemanusiaan. 

Chamkila termasuk salah satu anggota 27 Club. Dia tewas di usia 27 tahun, di puncak performa, dalam kasus penembakan yang tak terselesaikan hingga kini. Si istri kedua sekaligus partner duetnya di atas panggung, Amarjot, ikut menjadi korban. Kematian pasutri ini dipakai sebagai panggung pembuka, menghadirkan intro menyentak sebelum kita dibawa mundur untuk mengikuti perjalanan karir sang musisi.

Chamkila, atau yang mempunyai nama asli Dhani Ram (Diljit Dosanjh), merupakan kaum Dalit. Orang-orang tak berkasta yang dipandang begitu rendah. Menghabiskan masa kecil di lembah kemiskinan, Chamkila pun sering menyaksikan beragam pemandangan tak bermoral, yang kelak menjadi inspirasi di balik lirik-lirik sugestif miliknya. 

Bersama Amarjot (Parineeti Chopra), Chamkila menyanyikan yang dia lihat, yang rakyat jelata alami, yang tanpa sadar telah melahirkan potret wajah asli manusia. Itulah sebabnya masyarakat mencintai Chamkila, selalu membanjiri tiap pertunjukannya, sambil bernyanyi dan menari tanpa henti. Bahkan ia mampu mengumpulkan penonton 10 kali lebih banyak dari Amitabh Bachchan tatkala menggelar konser di Kanada.

Kita sebagai penonton pun tak dilupakan. Filmnya cukup banyak diisi adegan Chamkila membawakan lagu-lagunya di atas panggung, disertai lirik guna membantu penonton (terutama yang masih bernyanyi dengan Chamkila) memahami betapa menyenangkan karya-karyanya. 

Narasi Amar Singh Chamkila sejatinya tak membawa modifikasi bagi formula biopic, namun pencapaian naskahnya terkait penggunaan dua linimasa patut diapresiasi. Fase flashback merupakan menu utama berisi perjalanan karir sang protagonis, namun era masa kini yang mengambil latar pasca penembakan Chamkila, di mana rekan-rekan si musisi terlibat diskusi dengan DSP Bhatti (Rahul Mittra) dan para anak buahnya yang mengusut kasus penembakan tersebut, bukan sebatas koneksi dengan penggarapan asal-asalan.

Polesan estetika yang Ali gunakan pun acap kali memunculkan tanda tanya terkait substansi. Keberadaan beberapa sekuen animasi memang menambah variasi visual, namun pemakaiannya minim esensi. Begitu pula saat foto-foto asli Chamkila ditampilkan di tengah adegan, yang seolah-olah menunjukkan kurang kepercayaan diri Ali dalam menciptakan reka ulang. 

Tapi Amar Singh Chamkila tetap sebuah biopic solid biarpun masih dihantui berbagai kekurangan di atas. Di atas panggung, Chamkila menggunakan citra "sang penghibur" yang mendatangkan kebahagiaan, dan film ini ibarat perjalanan mengintip situasi di bawah panggung, saat seorang bintang menanggalkan topeng dan menampakkan wajah aslinya yang lebih rapuh. Sekali lagi, ini adalah potret realita.

0 komentar:

Posting Komentar