Minggu, 23 November 2025

HIT MAN

 HIT MAN



Richard Linklater adalah sineas yang fleksibel. Kerap melakukan produksi tanpa naskah yang pasti, juga kecenderungan menanggalkan struktur saklek narasi, jadi beberapa bukti. Tengok pula tema yang luar biasa beragam di karya-karyanya. Sehingga merupakan proses natural saat melalui Hit Man ia membahas soal diagnostik. Bagaimana kebakuan seharusnya tidak menguasai diri manusia, moralitas, dan hal-hal lain dalam kehidupan.

Kali ini sang sutradara menyampaikan sisi Hitchcockian ke dalam dirinya, dengan mengadaptasi artikel majalah Texas Monthly berjudul sama buatan Skip Hollandsworth (pernah menulis Bernie bersama Linklater, yang juga mengadaptasi artikel miliknya dari majalah tersebut). Kisahnya berpusat pada keseharian Gary (Glen Powell), seorang dosen psikologi yang bekerja sambilan di kepolisian New Orleans. 

Awalnya Gary hanya seorang guru yang membantu penyamaran misi-misi guna menangkap tersangka penyewa pembunuh bayaran, namun ketika agen lapangan mendapat banyak uang, Gary terpaksa turun menggantikannya. Gary harus menyamar sebagai pembunuh bayaran, berdiskusi dengan penyewa jasanya, lalu memancing pengakuan terkait niat pembunuhan agar polisi mendapat bukti untuk menangkapnya.

Sederhananya, tapi protagonis kita punya pandangan lain. Berbasis minatnya terhadap psikis manusia, Gary enggan asal menyamar. Dia menciptakan banyak karakter dalam berbagai persona, yang disesuaikan dengan kepribadian setiap klien. Memuaskan hasrat mereka terkait sosok pembunuh bayaran jadi tujuan Gary, meski tanpa sadar ia pun berusaha memuaskan dirinya sendiri.

Gary percaya bahwa kepribadian manusia tidak bisa diubah, namun aktivitas penyamaran ini mulai memunculkan pandangan lain. Apalagi ia acap kali merasa lebih nyaman menjalani hari sebagai karakter rekaannya. Serupa Holy Motors (2012) buatan Leos Carax, Hit Man menghadirkan observasi mengenai seni peran. Bagaimana akting beserta segala eksplorasinya memunculkan proses belajar. Tentang dunia sekitar, tentang orang lain, dan terpenting, tentang diri sendiri.

Di departemen akting, Glen Powell berhasil mengembalikan daya hibur melalui eksplorasinya kala mengenakan banyak "wajah". Momen paling memuaskan adalah melihat Gary si dosen kutu buku bertransformasi menjadi Ron si pembunuh bayaran keren yang penuh rasa percaya diri. Akibat persona Ron inilah Gary terlibat hubungan kompleks dengan Madison (Adria Arjona), salah satu klien yang membunuh sang suami.

Meski menulis naskahnya berdua bersama Powell, Linklater sama sekali tak kehilangan cirinya. Baris kalimat yang mampu menggelitik tanpa terasa membangkitkan tawa penonton, percakapan-obrolan acak yang berguna membangun hubungan antar karakter, hingga kemampuan mengolah interaksi sederhana menjadi situasi yang begitu kuat menarik ketegangan. Sewaktu babak akhirnya sukses melahirkan cerminan bagi suguhan twisty ala Hitchcockian, hanya saja dalam versi yang lebih ringan.

0 komentar:

Posting Komentar