Selasa, 18 November 2025

DOPAMIN

 DOPAMIN


Protagonis menemukan mayat bersama sejumlah uang, tiba-tiba gaya hidupnya terjerumus ke hedonisme, dihantui halusinasi sosok si mendiang, lalu dikuntit sosok misterius yang mengincar uang itu. Dopamin memang berjalan di area familiar terkait pengembangan premisnya, namun bila mempertimbangkan kelangkaan eksplorasi genre di sinema arus utama Indonesia, karya terbaru Teddy Soeriaatmadja ini layak dipandang sebagai embusan angin segar.

Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) adalah pasutri yang terjebak dalam benang kusut tersebut. Sudah setahun Malik gagal memperoleh pekerjaan hingga terlilit utang pinjol, sementara Alya baru mendapati dirinya hamil. Di banyak film Indonesia, mereka akan menggantungkan harapan pada pesugihan, yang akhirnya mengundang maut. 

Tapi tak sedikitpun tercium aroma klenik, biarpun sang maut tetap mengunjungi Malik dan Alya. Demi menjaga kelambu misteri alurnya, kalian cukup mengetahui deskripsi di paragraf pembuka. Ditemani komposisi musik kreatif nan spektakuler gubahan Ricky Lionardi, kita dibawa menyaksikan betapa kelabakannya kedua tokoh utama menangani "uang kaget" bernilai miliaran yang terhampar di hadapan.

Hormon dopamin seketika menyeruak dalam diri Malik dan Alya. Bukan semata-mata karena materi, tapi juga melegakan rutinitas mereka. Keduanya harus mengunjungi daerah terpencil di tengah malam demi menyembunyikan mayat, mengganti larangan bocor di bawah guyuran hujan, hingga mengakali razia polisi. Situasi Rentetan menegangkan itu mendatangkan keseruan yang mengembalikan tawa Malik dan Alya. 

Kombinasi pasutri dunia nyata, Angga Yunanda sebagai suami yang acapkali tak kuasa mengambil keputusan, dan Shenina Cinnamon sebagai istri yang nyaris mati rasa akibat lelah dihantam kemiskinan, melahirkan dinamika yang memotori gerak filmnya, tatkala naskah buatan Teddy luput menawarkan faktor-faktor yang dapat mengecoh ekspektasi kalangan penonton yang sudah familiar dengan genrenya.

Entah berapa kali kita disuguhi shot berisi Malik atau Alya dibuat terkejut oleh sesuatu/seseorang di luar frame. Kadang-kadang menyebabkan hal itu memang mengancam, tapi tidak jarang juga sekadar alarm palsu. Di satu sisi, berulangnya peristiwa tersebut sejalan dengan kondisi psikologis protagonisnya yang dicengkeram kecemasan, namun di sisi lain turut menandakan kecenderungan filmnya tampil berulang-ulang. 

Sejatinya tidak ada lubang yang terlampau menganga dalam penuturan Dopamin. Di kursi sutradara pun, kematangan Teddy tampak betul pada kerapian bercerita, pula perihal mengolah tempo yang berdampak pada terjaganya intensitas. Film ini hanya kekurangan variasi "warna", yang oleh rekan-rekan sejawatnya, kerap diakali menggunakan kelokan-kelokan tak terduga, atau modifikasi tone memakai bumbu komedi gelap.
Untungnya Dopamin berhasil mendarat dengan mulus di konklusinya, yang enggan menceramahi penonton lewat pesan-pesan berorientasi moral, dan memilih setia pada semangat "eat (atau bahkan "kill") the rich" yang coba ia kumandangkan sejak kali pertama dua karakternya menemukan sekoper penuh uang tunai.


0 komentar:

Posting Komentar