MONISME
Apa jadinya jika kamu mengetahui suatu fakta penting dengan urgensi tinggi untuk disampaikan, namun akibat kuasa suatu pihak, menunjukkan dan mewartakan realita itu secara apa adanya menjadi hal yang mustahil? Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada Riar Rizaldi selaku sutradara Monisme, mungkin ia akan menjawab, "Ciptakan saja realita versimu sendiri".
Begitulah kekuatan sinema. Dia menyediakan wahana untuk menciptakan apa pun sebebas mungkin. Itu pula yang dilakukan Riar Rizaldi kala menuturkan berbagai kisah seputar manusia-manusia di sekitar Gunung Merapi. Naskah yang memberi kredit pada "orang-orang yang hidup di kaki Gunung Merapi" bercerita dengan semaunya, mengalir tanpa memedulikan garis yang membatasi fiksi dan realita.
Ada beberapa cerita yang disampaikan, dari rutinitas dua ahli vulkanologi (Rendra Bagus Pamungkas dan Kidung Paramadita), jurnalis (Kidung Paramadita) yang mewawancarai penambang pasir (Rendra Bagus Pamungkas) guna mengungkap praktik penipuan, hingga seorang warga (Rendra Bagus Pamungkas) dengan segala pemujaannya terhadap Merapi. Ya, satu aktor memerankan lebih dari satu peran, bak mewakili beragam perspektif (sains, spiritual, ekonomi) yang disatukan oleh Merapi sebagai figur “absolut”.
Di tiap kisah, sekelompok ormas (dipimpin Whani Darmawan) selalu memamerkan kekuasaan, melakukan persekusi kepada mereka yang mencoba mengungkap kebenaran, menggambarkan cengkeraman premanisme yang mengakar kuat di Yogyakarta.
Kondisi di atas, termasuk korupsi di proyek penambangan, merupakan realita yang akan sulit diberikan secara apa adanya (sebagai dokumenter misal). Bayangkan ancaman yang berpotensi diterima dari para pemegang saham. Itulah sebabnya Riar Rizaldi membangun dunianya sendiri. Diciptakannya fiksi yang membaurkan batasan realita. Fiksi yang menelanjangi realita.
Penceritaannya mungkin perlu dipadatkan (durasi 115 menit menghasilkan beberapa momen draggy), pun sebagai film yang ingin mencapai batas antara fiksi dan dokumenter, batas itu tidak sampai kabur (mudah memilah adegan mana yang "direkayasa", mana yang "nyata"), namun pesona Monisme lewat narasinya yang misterius layaknya perjalanan menjelajahi tubuh Merapi memang begitu menghipnotis.






0 komentar:
Posting Komentar