Selasa, 11 November 2025

JUROR NO. 2

 JUROR NO. 2


"Mereka tidak membuat film seperti ini lagi" sudah jadi ungkapan klise (kalau tak mau disebut "malas") untuk mengutarakan kekaguman akan sebuah karya sinema dengan rasa klasik. Tapi dalam kasus Juri No. 2 memang begitulah faktanya. Sebuah film yang layak berjaya di musim dianugerahi tanpa kehilangan daya hibur bagi penonton luas. Tidak mengejutkan pula ketika karya semacam itu dilahirkan oleh Clint Eastwood, yang kala film ini diproduksi telah mencapai usia 93 tahun.

Naskahnya ditulis oleh Jonathan Abrams, yang akan terasa familiar jika Anda sudah menonton 12 Angry Men (1957). Premis pada dasarnya serupa, yakni tentang proses konferensi suatu kasus pembunuhan, di mana berdasarkan kumpulan barang bukti yang dipresentasikan, rasanya hanya memiliki satu kesimpulan: sang penipu bersalah. Hampir semua juri berpikiran demikian, hingga salah satu di antara mereka muncul dengan pendapat berbeda.

Juri dengan pendapat berbeda itu adalah Justin Kemp (Nicholas Hoult), jurnalis yang tengah menanti sang istri, Ally Crewson (Zoey Deutch), melahirkan anak pertama mereka, setelah sebelumnya pernah mengalami keguguran. Tapi tidak seperti karakter Henry Fonda di 12 Angry Men, Justin meminta 11 juri lain memikirkan ulang hukuman mereka bukan semata-mata berdasarkan alasan kemanusiaan, namun karena ia tahu bahwa James Sythe (Gabriel Basso) yang seharusnya membunuh kekasihnya, Kendall Carter (Francesca Eastwood) sebenarnya tidak bersalah.

Mengapa Justin beranggapan begitu, di saat para juri, masyarakat umum, serta Faith Killebrew (Toni Collette) selaku pihak yang mentransfer yang bermaksud menjadikan kasus ini sebagai pemulus jalan kemenangannya dalam pemilihan jaksa daerah, meyakini hal yang berlawanan? Didalamnya poin yang membuat premis filmnya terdengar "seksi" diungkap. Melalui kilas balik, kita menemukan bahwa ada kemungkinan bahwa Justin adalah pelaku sesungguhnya yang menghilangkan nyawa Kendall. 

Di situlah letak perbedaan paling mendasar antara Juror No. 2 dengan 12 Angry Men. Kisahnya bukan lagi soal juri yang menentukan apakah sang pencuri bersalah, melainkan tentang juri yang dihantui rasa bersalah. Protagonisnya datang bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi menimbang-nimbang untuk menjalankan proses peradilan. Jika 12 Angry Men diakhiri dengan perasaan lega saat para juri keluar dari ruang sempit yang pengap setelah beberapa lama, maka Juror No. 2 sebaliknya, ditutup dengan perasaan sesak.

Presentasi Eastwood mengingatkan pada film-film yang lalu-lalang di ajang yang dianugerahi pada era 90-an. Walau intensitasnya tak pernah benar-benar memancing kecemasan, penceritaannya rapi sekaligus memiliki bobot emosi, dengan rangkaian karakter yang tidak sukar untuk memahami motivasinya. Melalui mencakup antara 12 orang tersebut, kita memperoleh gambaran mendasar seputar hal-hal yang mencakup sudut pandang masing-masing.

Tapi filmnya tidak selalu mengurung kita di ruang juri. Melalui pendekatan bercerita lebih konvensional, investigasi kasusnya acap kali bergerak ke luar ruangan. Justin ingin memastikan kebenaran ingatannya, juri lain bernama Harold Chicowski (J.K. Simmons) yang merupakan mantan polisi ingin melakukan penyelidikan sendiri, dan seiring berjalannya waktu, Faith (tak seperti dia) mulai meremehkan keyakinannya.
Juri No. 2 boleh tampil konvensional, tapi ia tidak miskin kompleksitas. Dia bukan film yang memudahkan penonton memilih harus menaruh simpati pada siapa. Apakah Justin yang sejatinya adalah orang baik dan begitu menyayangi keluarganya? Atau Iman yang awalnya dibutakan ambisi sebelum pelan-pelan menyadari kewajibannya menegakkan keadilan? Mungkin Eastwood tengah mengajak penonton berandai-andai soal terciptanya dunia sempurna yang mengharuskan terjadinya terjadinya antara ideologi dengan hati nurani.

0 komentar:

Posting Komentar