NOSFERATU
Beberapa waktu lalu publik baru dirundung duka akibat kepergian David Lynch, yang meninggalkan setumpuk ilmu tak ternilai bagi dunia sinema. Melalui Nosferatu, Robert Eggers menunjukkan bahwa mungkin saja dialah penerus sahih dari prinsip-prinsip Lynchian. Bukan perihal surealisme, tapi bagaimana sang sineas menggambarkan karya bagaikan mimpi buruk.
Semasa muda, Ellen (Lily-Rose Depp) yang dihantui memimpikan mimpi kedatangan "malaikat pelindung". Dia pun memanggil ke arah kelam malam, dan segera menerima jawaban, namun bukan dari malaikat, melainkan iblis pengisap darah bernama Count Orlok alias Nosferatu (Bill Skarsgård). Beberapa tahun berselang, Ellen menikahi Thomas (Nicholas Hoult) dan berusaha hidup sebagai pasutri yang bahagia.
Masa lalu Ellen dan Count Orlok memberi pembeda dengan film aslinya, Nosferatu A Symphony of Horror (1922) yang merupakan adaptasi tak resmi dari novel Dracula karya Bram Stoker. Ketika Thomas bertugas menggertak kastil Count Orlok dengan tujuan menyerahkan surat kontrak pembelian tanah, itu bukanlah kebetulan sial melainkan mengaktifkan akal bulus iblis guna menarik manusia menuju lembah kegelapan.
Kisahnya bukan lagi tentang vampir yang menempel pada pandangan pertama pada perempuan yang hanya ia kenal lewat foto. Lebih dari itu, Eggers yang ikut menulis naskahnya, menjadikan Nosferatu sebagai representasi upaya individu beranjak dari hubungan destruktif yang pernah mengurungnya di masa lalu.
Apakah Ellen akan berserah pada hasrat gelap yang bersemayam dalam dirinya, atau beranjak bangun lalu melangkah ke arah cahaya? Eggers memandang kebiasaan para vampir seperti Count Orlok untuk beraksi di tengah kegelapan sambil menghindari matahari layaknya mimpi buruk yang menghantui orang-orang di malam hari. Alhasil, Nosferatu juga dikemas demikian.
Berbagai departemennya, dari pengadeganan Eggers serta sinematografi garapan Jarin Blaschke yang atmosferik, hingga penyuntingan dari Louise Ford yang tak jarang mempermainkan persepsi penonton akan realita, menciptakan pengalaman seperti mimpi. Nosferatu ibarat romantisasi bunga tidur, yang kerap dideskripsikan oleh karakternya memakai rangkaian kalimat puitis indah bernuansa Shaekespearean, bahkan di saat ia mendatangkan ketakutan bahkan kematian.
Dibanding karya-karya sang sineas sebelumnya, Nosferatu adalah film Eggers yang paling "bersahabat", karena eksistensi berbagai formula khas horor arus utama seperti jumpscare, teror dalam mimpi, hingga momen saat sang protagonis mengalami kesurupan sambil kayang. Terdengar familier, tapi tidak pernah menjadi pendekatan umum berkat pendekatan yang sang sutradara pakai.
Jarak pemainnya tidak kalah luar biasa. Bill Skarsgård memodernisasi figur Count Orlok, hingga alih-alih monster tanpa akal, ia lebih tampak seperti sesosok tiran keji nan menyeramkan. Memerankan Albin Eberhart von Franz yang berstatus karakter asli, Willem Dafoe kembali menampilkan kesintingan magnetis yang selalu mencirikan gaya aktingnya. Tapi Lily-Rose Depp, berbekal kemampuan menangani emosi serta kehebatan mengolah gerak tubuh, membuatnya menjadi penampil terbaik.
Perhatikan saat Ellen perlahan hendak memasuki fase trance yang kerap ia alami sejak kepergian sang suami. Tubuhnya bergetar hebat, dan Lily-Rose membuat kita yakin bahwa gerakan itu merupakan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Ellen terkekang dalam kendali sang iblis, sebelum klimaksnya menampilkan power play yang menggambarkan proses seorang perempuan menguasai kendali atas dirinya (termasuk seksualitasnya), sedangkan si laki-laki hancur akibat tak kuasa mengendalikan hasratnya. Saat itulah protagonisnya terbangun dari mimpi buruk.






0 komentar:
Posting Komentar