Jumat, 14 November 2025

SAMPAI JUMPA, SELAMAT TINGGAL

 SAMPAI JUMPA, SELAMAT TINGGAL

Apakah penerapan latar Korea Selatan di Sampai Jumpa, Selamat Tinggal merupakan suatu keharusan? Mungkin tidak, tapi tempat berstatus "tanah asing" memang esensial bagi filmnya. Karena Adriyanto Dewo selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menjadikan Korea sebagai representasi ketersesatan para individu yang secara kebetulan saling bersimpangan jalan.
Individu pertama adalah Rey (Jerome Kurnia) yang bertahan hidup dengan bekerja serabutan sebagai imigran gelap. Lari dari polisi imigrasi sudah jadi makanan sehari-hari. Keharusan untuk kabur itu pula yang membuat Rey bersedia membantu Wyn (Putri Marino), yang datang ke Korea guna mencari keberadaan kekasihnya, Dani (Jourdy Pranata). 
Serupa karya-karyanya sebelum ini (Tabula Rasa, Kajiman, One Night Stand, Galang, Mudik), Adriyanto Dewo kembali memakai pendekatan yang cenderung "rileks". Mengalir dalam tempo medium yang terasa presisi berkat kejeliannya mengatur tempo, meminimalkan dramatisasi, pula mengutamakan suasana daripada alur. Adriyanto sudah menguasai betul metode tersebut, sehingga dengan mudah saya pun dibuat terhanyut dalam pusaran kehidupan penuh misteri karakternya.
Sinematografi garapan Dimas Bagus Triatma Yoga menyusun gambar-gambar cantik yang enggan menyia-nyiakan indahnya warna-warni lampu malam, sebagai panggung Rey dan Wyn mencari petunjuk arah. Ketika Jerome tampil dingin (sesuai kebutuhan), Putri menyeimbangkannya melalui penutup emosi yang luas serta penanganan variatif terhadap kalimat-kalimat dalam naskah. Kiki Narendra yang memuluskan selipan humor filmnya sebagai Anto yang gemar mencampuradukkan Bahasa Korea dan celotehan Bahasa Jawa, juga Lutesha sebagai Vanya yang misterius nan intimidatif, tak ketinggalan mencuri perhatian. 
Alur Sampai Jumpa, Selamat Tinggal yang terkesan tanpa arah bukannya tanpa tujuan. Adriyanto memang ingin menyamakan frekuensi penonton dengan dua tokoh utama yang sedang tersesat. Rey tidak memiliki tujuan, sementara Wyn mendapati tujuannya hanya akan mengembalikan lingkaran setan yang pernah ia lalui.
Hanya saja, untuk bisa melalui durasi yang mencapai 109 menit, film ini memerlukan injeksikan dinamika. Selepas melewati satu jam, alur monoton yang mengutamakan atmosfer dan tampil dingin karena minim gejolak akhirnya terasa melelahkan. Apalagi tokoh-tokohnya baru benar-benar berproses saat alurnya mendekati paruh akhir (sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk menambah dinamika sedari awal). 
Memasuki babak pamungkas, barulah kita lebih jauh mengenal tiap karakternya, mengetahui luka serta dosa masing-masing. Sampai Jumpa, Selamat Tinggal berkilau tak berusaha tampil "ajaib" dengan menyembuhkan mereka secara instan. Pada akhirnya mereka belum sepenuhnya meninggalkan kegelapan, masih tetap menyisakan luka, tapi setidaknya ada secercah cahaya bernama "tujuan" yang membuat hidup lebih memiliki arti.


0 komentar:

Posting Komentar