Sabtu, 15 November 2025

THE PIANO LESSON

THE PIANO LESSON


Malcolm Washington, putra Denzel Washington, mengawali pertunjukan sebagai sutradara melalui The Piano Lesson, sebuah drama strong hasil adaptasi naskah teater berjudul sama karya August Wilson (Fences, Ma Rainey's Black Bottom), yang berbicara tentang proses emosional untuk mengubah trauma masa lalu menjadi warisan yang mendatangkan kebanggaan sekaligus kekuatan.

Dihiasi kelap-kelip cahaya kembang api yang bergantian memancarkan warna bendera Amerika Serikat, The Piano Lesson membuka narasinya. Di tengah selebrasi warga kulit putih merayakan hegemoni bangsa yang kala itu menginjak usia 135 tahun, kita melihat golongan yang terpinggirkan, yakni para budak kulit hitam, diam-diam tengah mengambil sebuah piano dari rumah yang kosong. 

Musik mencekam gubahan Alexandre Desplat menutup sekuen pembuka tersebut, dan kita pun diajak melompat menuju 25 tahun kemudian, di Pittsburgh, tepatnya di kediaman Doaker (Samuel L. Jackson). Bernice (Danielle Deadwyler), keponakan Doaker yang seorang diri mengasuh putrinya, juga tinggal di sana. Piano yang tadi kita saksikan kini jadi milik Bernice, terletak di tengah ruangan tanpa pernah ia mainkan.

Ada hubungan cinta/benci antara Bernice dengan piano tersebut, yang baginya merupakan warisan berharga mendiang orang orang tua, sekaligus Saksi bisu masa lalu penuh duka mereka di era bertahan. Ketika sang adik, Boy Willie (John David Washington) tiba-tiba pulang bersama temannya, Lymon (Ray Fisher), dengan tujuan menjual piano tersebut, pertengkaran keluarga pun segera pecah. 

serupa adaptasi karya August Wilson lain, The Piano Lesson membuktikan bahwa kata-kata tidak kalah eksplosif dibandingkan ledakan bom, pula bisa lebih tajam daripada ayunan pedang. Naskah buatan Malcom Washington dan Virgil Williams mampu memanfaatkan barter kalimat yang karakternya lakukan guna mengolah dinamika. Didukung pengarahan Washington yang secara mulus menerjemahkan mise-en-scène pementasan panggung ke dalam tangkapan kamera, The Piano Lesson menghasilkan dua jam penuh dengan intensitas.

Pada tipikal film seperti ini, tentu akting pemainnya memiliki signifikansi tinggi. John David Washington dengan tenaga tanpa batas yang menunjukkan ambisi tinggi karakternya, Danielle Deadwyler tampil maksimal sambil berusaha mengubur rasa sakit yang terus mengusik hati Bernice, sedangkan Samuel L. Jackson sebagai Doaker merupakan "pengamat" yang memilih mengutarakan netral biarpun dari gerak-geriknya nampak menyimpan kegundahannya sendiri. Mereka menawarkan pesona yang berbeda-beda. 

Seluruh karakternya mempunyai luka yang membuat mereka terus dikejar oleh hantu dari masa lalu. Namun layaknya pendekatan khas teater, metafora mengenai “hantu” tersebut tidak hadir secara malu-malu, bahkan diberi personifikasi yang membuat The Piano Lesson sempat menyentuh ranah horor, terutama di babak ketiganya. Uniknya, meski rasanya tidak semua penonton akan bisa menerima percampuran genre tersebut.

Nantinya kita juga berkenalan dengan Avery, yang sudah sejak lama mengejar cinta Bernice yang sudah beberapa tahun ditinggal mati suaminya. Sebagai seorang pengkhotbah yang ingin membangun gereja, sosok Avery tampak tanpa cela dari luar. Namun The Piano Lesson menawarkan sudut pandang yang menarik, dengan membuat Avery mewakili segala cara pandang yang salah terkait masalah-masalah karakternya. 

Di mata Avery, janda seperti Bernice takkan bisa menjadi "perempuan seutuhnya" bila tak menerima cinta dari seorang laki-laki. Dia pun terkesan meremehkan Bernice terkait traumanya. Hebatnya, meski dari dalam terus digerogoti rasa sakit, sementara dari luar banyak pihak enggan memedulikan perasaaannya, Bernice tetap berdiri tegak, dan akhirnya mendapatkan kekuatan dari masa lalu yang sebelumnya ia anggap sebagai sumber luka semata.

0 komentar:

Posting Komentar