Rabu, 12 November 2025

TUMBAL DARAH

 TUMBAL DARAH


Tumbal bukan darahnya tanpa cela. Dibanding dua horor garapan Charles Gozali sebelumnya (Qodrat dan Pemukiman Setan) ia cenderung inferior. Namun pada saat yang sama, kolaborasi antara Magma Entertainment, Wahana Kreator, dan Sinemaku Pictures ini memiliki sesuatu yang jarang ditemui di film horor tanah air, yakni protagonis likeable yang dapat dengan mudah kita dukung perjuangannya.

Jefri (Marthino Lio) namanya. Di tengah pandemi, ia berusaha bertahan hidup sebagai penagih utang demi membiayai pengiriman sang istri, Ella (Sallum Ratu Ke), yang sebentar lagi melahirkan anak kedua mereka. Beberapa tahun lalu, Jefri menyaksikan kematian si putri sulung akibat kebakaran dan masih menyimpan duka hingga kini. 

Menarik menyaksikan film arus utama diisi oleh para karakter yang berasal dari Indonesia Timur, dengan cerita universal yang tak harus membahas isu-isu spesifik daerah tersebut (seperti saat Jordan Peele mengisi Us dengan jajaran aktor kulit hitam tanpa menjadikan film tentang ras). 

Jefri punya semua alasan untuk memperbaikinya pada kegelapan. Profesinya pun sangat memungkinkan hal itu terjadi, namun ia menolak kehilangan perasaan. Pertama kali kita berkenalan dengan Jefri, ia menagih hutang di toko seorang pria tua (Epy Kusnandar), terlihat gahar saat melempar ancaman dengan mengiris tangan sendiri, tapi akhirnya memberi "si klien" kelonggaran. Jefri tak sampai hati menambah penderitaan rakyat jelata semasa pandemi.

Momen tersebut memudahkan penonton bersimpati lalu mendukung seluruh pertarungan yang kelak Jefri alami. Apalagi Marthino Lio tampil luar biasa menghidupkan karakter yang bak berputar sempurna dari figur "jagoan ala sinema aksi Hong Kong" yang kerap jadi referensi Charles Gozali. Tangguh secara fisik (Jefri terlihat begitu badass kala dengan santai menangkis pukulan supaya bisa mengangkat panggilan telepon di sebuah adegan) tetapi memiliki kelembutan hati dan takkan berpikir dua kali untuk berkorban demi orang-orang terkasih. 

Teror berdarah mulai Jefri temui ketika tiba waktunya bagi Ella untuk melahirkan. Naskah buatan Charles Gozali dan Arief Ash Shiddiq melontarkan kritik terhadap penanganan COVID di negeri ini saat pihak yang berwenang diwakili hanya cerewet membiarkan rakyat miskin memakai master tapi lalai memberi bantuan. Begitu pula saat tidak ada rumah sakit yang mau membantu persalinan Ella, tapi dengan senang hati menerima orang kaya, meskipun ia mengakui kasus korupsi.

Tibalah Jefri di klinik bersalin milik sepasang suami istri, Iwan (Donny Alamsyah) dan Sandra (Agla Artalidia), serta asisten mereka, Bakar (Aksara Dena). Tentunya itu bukan klinik biasa, melainkan kedok bagi sebuah praktik pesugihan yang memerlukan tumbal manusia. Jefri pun harus segera kabur dari ancaman mematikan di klinik tersebut, sekaligus membantu sang istri yang bernafas.

Masalahnya, naskah Tumbal Darah tak mampu menegaskan urgensi dari kondisi yang seharusnya sangat mendesak tersebut. Jalinan alurnya bergerak terlalu santai untuk sebuah kisah yang mengharuskan tokoh utamanya berpacu dengan waktu. Alhasil, begitu banyak ruang kosong sepanjang 92 menit durasinya yang terasa kurang padat.

Belum lagi soal ketiadaan misteri (selepas Jefri melihat langsung cara Iwan dan tim "menangani" pasien lain, praktis tiada tanda tanya lagi yang tersisa) serta hadirnya beberapa adegan dengan eksekusi yang canggung. Contohnya saat salah satu karakter secara tidak sengaja menusuk karakter lain. Pada momen tersebut naskahnya menampilkan subteks yang sesungguhnya sekaligus tragis puitis, namun ketiadaan build-up memadai, juga pilihan shot yang kurang tepat, berputar cuma menghasilkan pemandangan konyol. 

Beruntung, penanganan Charles Gozali terhadap adegan aksi masih kerja keras biasanya. Dibantu tata kamera Arah Hani Pradigya yang (sebagaimana dalam dua kolaborasi terakhirnya dengan sang sutradara) bergerak dengan begitu dinamis, Charles menghantarkan berbagai baku hantam yang terasa brutal tanpa perlu secara berlebihan bergantung pada gore layaknya tren yang tengah menguasai pasar horor lokal.
Di luar beberapa kekurangan pada departemen penceritaan, Tumbal Darah tetap memiliki pencapaian karena mampu menyeimbangkan otot dengan hati. Terasa beringas tapi juga lembut. Perihal kekuatan di aspek dramatis, pasca debut memikat Wanita asal Pulau Rote, Sallum kembali unjuk kebolehan mengolah emosi. Berkatnya, upaya Tumbal Darah melahirkan horor yang hanya sekedar meletakkan fokus pada figur iblis dan bersedia mengedepankan humanisme pun berhasil tercapai.

0 komentar:

Posting Komentar