Selasa, 04 November 2025

BIRD

BIRD

Betapa kami suka bernyanyi bersama, meski kata-katanya salah". Begitu bunyi sepenggal lirik dari lagu The Universal milik Blur yang beberapa kali terdengar di film ini. Banyak orang, termasuk barisan karakter di Bird, memang tidak bisa menjalani hidup sesuai norma. Perilaku mereka, atau cara yang ditempuh untuk mengarungi keseharian, tidak mencerminkan "kenormalan". Tapi seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga ingin bisa bisa untuk mengarungi keseharian, tidak mencerminkan "kenormalan". Tapi seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga ingin bisa bisa dan dicintai.

Hidup normal bukanlah kemewahan yang bisa dinikmati Bailey (Nykiya Adams). Dia tinggal di sebuah apartemen terbengkalai bersama ayah yang masih sangat muda, Bug (Barry Keoghan), dan kakak tirinya, Hunter (Jason Buda). Bug jauh dari figur ayah ideal. Suatu ketika, ia mengumumkan akan menikahi Kayleigh (Frankie Box) meski baru mengenal si perempuan beranak satu selama tiga bulan. Membuat racun dari ekstrak racun katak jadi bagaimana membiayai pernikahan tersebut. 

Mudah memberi cap buruk kepada Bug, apalagi saat Keoghan muncul dengan akting yang membuatnya mudah dibenci. Tapi melalui Bird, Andrea Arnold yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, coba mengajak penonton mengamati lebih jauh, mengamati keluarga (bahkan secara lebih luas, sosial masyarakat) disfungsional yang berjuang memakai cara mereka sendiri. Arnold paham betul bahwa kaum marginal ini tidak sempurna, jauh dari standar moralitas, namun tidak berarti dapat dengan mudah dihakimi.

Bailey yang menolak pernikahan sang ayah memutuskan memberontak. Rambut panjangnya ia pangkas, pernah pula ia tak kembali pulang dan tertidur di tengah tanah lapang. Tiba-tiba angin berembus kencang. Suara desirnya seketika terdengar lantang. sementara pohon dan rumputan tinggi ikut bergoyang. Di situlah nuansa mistis dari elemen realisme magis milik Bird mulai menampakkan wujudnya. 

Begitu pagi kedatangan, sesosok pria misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai Bird (Franz Rogowski) mendekati Bailey, dan dari situlah persahabatan tak biasa keduanya bermula. Bersenjatakan permainan gestur eksentrik yang sarat misteri, Rogowski dengan mulus menjadikan Bird poros magis realisme filmnya.

Burung melambangkan apa yang Bailey harapkan hadir dalam hidupnya: kebebasan. Ibarat burung yang terbang semaunya di angkasa, Burung tidak terikat oleh aturan apa pun. Tengok saja ditampilkan. Fisik Bird sama seperti laki-laki pada umumnya, namun ia memakai rok, seolah menolak dikekang oleh sekat-sekat gender. 

Metode yang Andrea Arnold pakai untuk menggarap filmnya pun menjunjung tinggi sebagai kebebasan. Bird seringkali mendobrak pakem pembuatan film konvensional, termasuk saat di satu titik Bailey menatap tajam ke arah kamera. Dinding pemisah antara karakter dengan penonton seketika runtuh, begitu pula batasan realisme dan fantasi, juga kenyataan dan mimpi.

Kesan di atas diteruskan oleh teknik penyuntikan yang bergerak layaknya menjaga-keping kenangan, sewaktu acap kali filmnya, meski hanya dalam sekejap, menampilkan isi hati Bailey yang diisi rekaman memori mengenai orang-orang di sekitarnya. Dari situ kita bisa memahami kompleksitas perasaan sang protagonis secara lebih jauh. 

Bailey tidak menginginkan kedatangan Kayleigh. Tapi ketika ibu kandungnya, Peyton (Jasmine Jobson), menyebut Bailey "buruk rupa", Kayleigh malah memuji penampilannya. Pemahaman Kayleigh adalah perempuan yang baik. Realita memang tidak mengikisnya, apalagi bagi individu yang tengah mengarungi fase pendewasaan seperti Bailey.


0 komentar:

Posting Komentar