RAHASIA RASA
Ada dua cerita besar yang hendak dicampur oleh naskah hasil tulisan Hanung bersama Haqi Achmad dan Adi Nugroho. Pertama terkait pergulatan personal Ressa (Jerome Kurnia), chef hidangan Italia ternama yang selalu mual jika mencium aroma bumbu masakan Indonesia. Kedua, ada proses Ressa mempelajari eksistensi Mustikarasa bersama sahabatnya sejak kecil, Tika (Nadya Arina).
Ketimbang mengawinkan kedua kisah di atas agar saling melengkapi, Rahasia Rasa justru menyajikannya secara bergantian. Alhasil narasinya bergerak tak terkendali, membesar, meliar, hingga akhirnya keluar jalur seiring berjalannya waktu.
Padahal penceritaannya diawali dengan baik. Kecintaan Hanung terhadap kehidupan "masyarakat biasa" menemukan fungsinya di sini. Sewaktu kisahnya mengambil latar Jakarta, Hanung memberikan gambaran yang sangat dingin. Para manusianya terkesan tak manusiawi sembari membalut diri dengan gelimang harta mereka, makanannya pun tampak kurang menggugah selera meski penyajiannya luar biasa cantik.
Sampai suatu ketika, pasca mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya kemampuan merasa, Ressa memutuskan pulang ke kampung halamannya, yakni sebuah desa kecil di sekitar Magelang. Di sana semuanya terasa lebih hangat, dari orang-orangnya, termasuk Mbah Wongso (Yatti Surachman) yang merawat Ressa semasa ia kecil, maupun makanannya yang terlihat lebih lezat berkat tangkapan kamera Saudi Utama selaku pengarah sinematografi.
Rahasia Rasa sejatinya adalah proses si tokoh tuama menemukan rumahnya lagi. Sesederhana itu. Ketika tekanan rutinitas zaman modern memaksa banyak individu mematikan rasa mereka, rumah selalu bisa jadi pengobat luka yang mengembalikan sisi kemanusiaan seseorang. Bagi sebagian penonton, kesembuhan trauma masa lalu Ressa yang membuatnya mual tiap mencium bumbu lokal mungkin akan dirasa terlampau instan, tapi pada kenyataannya, psikologis manusia memang sesuatu yang tidak selalu bisa dipahami logika.
Dilatari oleh tata kamera yang jeli memanfaatkan format layar lebar guna menghadirkan gambar-gambar cantik, jajaran pemainnya menampilkan penampilan terbaik mereka. Jerome Kurnia sebagai sosok yang kehilangan jati diri selepas "membuang" masa lalu serta kampung halamannya, Nadya Arina yang memamerkan ketangguhannya, Yatti Surachman sebagai penyangga semua tiang emosi kisahnya, bahkan Aksara Dena sebagai Tarjo si preman kampung yang kembali membuktikan kapasitas sebagai aktor pendukung yang bisa diandalkan.
Slamet Rahardjo memerankan Broto, mantan jenderal yang kini menjabat sebagai staf khusus Presiden. Melihatnya berkembangnya masakan Ressa dengan sedemikian rakus, tidak sulit membaca apa yang coba Rahasia Rasa sampaikan melalui karakternya. Menariknya, Broto sempat mengucapkan sebaris kalimat yang secara tepat merangkum kekurangan terbesar film ini: "Terlalu banyak drama!"
Semakin ke belakang, Rahasia Rasa semakin terjebak dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri. Bahkan menjelaskan latar belakang Ressa yang sebenarnya sangat sederhana pun naskahnya kerepotan. Ide unik untuk menyelipkan dramatisasi fiktif ke dalam catatan sejarah yang menuntun karakternya ke dalam investigasi misteri ala The Da Vinci Code pun gagal tampil maksimal akibat metode pembagian narasi yang kurang tepat sebagaimana telah disinggung di awal tulisan. Tapi apakah keputusannya membawa tema berbeda di tengah cengkeraman horor klenik di perfilman Indonesia layak diapresiasi? Tentu saja.






0 komentar:
Posting Komentar