GIRLS WILL BE GIRLS
Girls Will Be Girls sebagai karya penyutradaraan perdana Shuchi Talati (juga penulisan naskahnya) menunjukkan bahwa kisah mengenai seksualitas dapat disajikan secara imut, dan sebaliknya, film yang imut tetap bisa melontarkan kritik sosial setajam pisau. Bukti kalau sinema tidak seharusnya mengurung diri dalam kekakuan pakem.
Menariknya, Girls Will Be Girls punya protagonis yang terkesan kaku. Namanya Mira (Preeti Panigrahi), seorang siswi teladan di sebuah asrama sekolah yang terletak di kaki Himalaya. Dia menjadi perpanjangan tangan guru untuk mengingatkan murid yang melanggar aturan (rok yang terlalu pendek, mewarnai kuku, dll.), nilai pun selalu jadi yang tertinggi.
Demi mendukung prestasi akademik putrinya, Anila (Kani Kusruti) tinggal di dekat asrama sekolah supaya tiap mendekati jadwal ujian, Mira dapat pulang ke rumah untuk belajar di bawah pengawasannya. Ayah Mira, Harish (Jitin Gulati), lebih banyak absen dari hidupnya karena urusan pekerjaan. Suatu ketika Harish berkata pada Anila, "Kalau Mira gagal, itu salahmu", seolah berusaha menunjukkan maskulinitasnya, menagih hak tanpa bersedia memenuhi kewajiban sebagai ayah dan suami.
Sekilas semuanya tampak seperti prolog familiar bagi sebuah drama coming-of-age. Masih merasakan hal yang sama saat Mira berkenalan dengan Sri (Kesav Binoy Kiron), seorang siswa pindahan yang juga putra diplomat sehingga pernah menetap di banyak negara. Mira yang kaku mulai jatuh cinta, melanggar aturan rumah dan sekolah, hingga belajar mengenai seksualitas. Di suatu titik, Mira mengajak Sri ke warnet untuk mempelajari organ reproduksi sebelum berhubungan seks.
Shuchi Talati memotret cinta monyet tokoh utamanya, yang mulai mengenal romansa dan segala pernak-perniknya, dengan sangat menggemaskan. Seksualitasnya tidaklah jorok atau eksploitatif karena tekanan kepolosan protagonisnya. Misal saat Mira dan Sri diam-diam berciuman di kamar dengan kedok belajar bersama, sambil sesekali mengintip keberadaan Anila. Sekali lagi, menggemaskan
Sampai kemudian Sri justru mendekati Anila, termasuk memberikan perhatian yang tak pernah Harish berikan. Awalnya hal itu dilakukan agar Anila memperbolehkannya bertemu Mira, tapi lambat laun timbul rasa cinta dalam hati sang putri kepada ibunya.
Tapi Girls Will Be Girls bukan cerita opera sabun mengenai ibu dan anak yang memperebutkan laki-laki. Sebaliknya, ia bagai kisah peringatan. Peringatan akan bahaya manipulasi laki-laki terhadap perempuan, apa pun hubungan yang terjalin di antara mereka. Tentang para laki-laki yang seolah peduli (rajin melontarkan kata-kata manis, atau siap memenuhi kebutuhan finansial pasangan), namun sejatinya selalu absen saat ia dibutuhkan.
Tiga pelakon utama sama-sama tampil mengesankan. Kesav Binoy Kiron akan membuat penonton menonton ikut intensitas karakternya, Kani Kusruti membawakan kompleksitas pada figur ibu tegas dan istri kesepian, sedangkan Preeti Panigrahi seolah sudah punya pengalaman akting segudang biarpun film ini merupakan debut. Sosok Mira diciptakan begitu hidup dengan rasa malu dan jangkauan emosi yang luas.
Pada akhirnya "perempuan akan tetap menjadi perempuan". Selalu jadi sasaran manipulasi dan beragam bentuk ancaman lainnya dari laki-laki. Tapi perempuan tetaplah perempuan, yang tatkala bersatu memberikan dukungan dan kepedulian bagi satu sama lain, akan menciptakan ikatan yang takkan mampu diputuskan oleh laki-laki sebiadab apa pun.






0 komentar:
Posting Komentar