PEREMPUAN PEMBAWA SIAL
Setelah mengobrak-abrik template Ramayana di Sleep Call (2023), kali ini giliran kisah Bawang Merah Bawang Putih yang dipelintir oleh duo Fajar Nugros-Husein M. Atmodjo. Perempuan Pembawa Sial (sebelumnya berjudul Ratu Sihir) mengubah dongeng tersebut ke ranah horor yang lebih jahat pula ambigu secara moral, meskipun kali ini naskahnya tidak memiliki kompleksitas kemampuan guna menyajikan penceritaan mendalam.
Si perempuan pembawa sial yang dimaksud adalah Mirah (Raihaanun), yang entah kenapa selalu mendatangkan kematian bagi laki-laki yang menjalin hubungan dengannya. Adegan pembukanya menegaskan hal itu ketika menggempur Mirah dengan teror demi teror. Tidak sampai 10 menit pertama, filmnya sudah meluncurkan begitu banyak jumpscare, yang beberapa di antaranya memiliki konsep yang cukup kreatif, pula diarahkan dengan ketepatan waktu yang tepat oleh Fajar selaku sutradara.
Orang-orang di balik Perempuan Pembawa Sial paham betul pentingnya peran panggung pembuka untuk menggaet atensi penonton, dan dengan berani membuat filmnya langsung tampil menggebrak. Saya menyebutnya "berani" karena jika tak membekali diri dengan segudang amunisi, ada risiko terornya kehabisan gagasan kreatif. Sayangnya itulah film ini alami.
Deretan jumpscare yang nantinya menyusul gagal menyaingi kualitas opening-nya. Masih dilengkapi dengan teknis yang solid, pula tidak muncul tanpa perhitungan, hanya konsep serta eksekusi generiknya. Minimnya porsi bagi Didi Nini Thowok yang legendaris meski wajahnya terpampang besar di poster pun tidak membantu. Bukan suatu kelemahan, namun lebih ke arah strategi pemasaran yang menyesatkan. Sewaktu sang seniman legendaris menari di kredit penutupnya yang menyeramkan, saya hanya bisa berujar, "Ini yang filmnya perlu!".
Serupa persaudaraan bawang merah dan bawang putih, Mirah pun memiliki saudara tiri bernama Puti (Clara Bernadeth). Keputusan untuk memperkenalkan Puti baru di tengah cerita berdampak pada minimnya waktu mengeksplorasi dinamika psikologis mereka berdua. Hasilnya singkat. Padahal ada potensi kerumitan mengenai sosok protagonis yang tak sepenuhnya suci, pula perspektif menarik tentang "Pantaskah individu menerima hukuman atas dosa masa lalu di saat ia sudah menjadi manusia yang sama sekali berbeda?".
Kutukan yang Mirah terima membuatnya kesulitan melahirkan romansa dengan laki-laki. Termasuk ketika perhatiannya tertuju pada Bana (Morgan Oey) si penjual makanan padang yang bersedia membantu Mirah. Tapi ada kalanya kondisi tersebut memihak Mirah, ketika datang laki-laki yang hanya ingin menjadikan tubuhnya sebagai alat pemuas nafsu. Segala hal di dunia memang punya dua wajah, baik kutukan maupun cinta dan seksualitas.
Seiring bergulirnya durasi, Perempuan Pembawa Sial semakin terasa melelahkan. Apalagi ketika plotnya yang berusaha mengutak-atik formula Bawang Merah Bawang Putih dengan mencampurnya ke dalam mitos bahu laweyan mengenai perempuan pembawa kematian cenderung tipis.
Di luar berbagai kelemahannya, Perempuan Pembawa Sial memiliki satu hal yang jarang diperhatikan sineas lokal: identitas. Kombinasi Fajar Nugros dan Husein M. Atmodjo memiliki kekhasan dalam kolaborasi mereka. Entah itu cerita yang merekonstruksi kisah-kisah klasik yang telah dikenal secara turun-temurun, atau humor yang diselipkan tanpa terpengaruh nada inkonsistensi (walau poin kedua seperti tampil agak ragu-ragu di film ini).






0 komentar:
Posting Komentar