Jumat, 14 November 2025

MY FAVOURITE CAKE

 MY FAVOURITE CAKE


Janda 70 tahun bernama Mahin (Lily Farhadpour) sedang berjalan-jalan di taman saat seorang perempuan dipersekusi oleh polisi moral karena dianggap keliru dalam memakai hijab. Mahin berhasil menolong si perempuan, yang kemudian mengeluhkan kondisi pasca revolusi karena dirasa mengekang, lalu berujar bahwa untuk orang tua seperti Mahin, berbagai hukum patriarkis yang diterapkan tentunya takkan memberi dampak. Mahin tampak terkejut.

Secara umum, sinema telah berusaha mendukung isu pemberdayaan perempuan, termasuk perihal pengekangan ekspresi diri serta hak atas tubuh mereka. Tapi ada satu golongan yang acap kali lupa untuk dijamah: lansia. 

Nyatanya perempuan lanjut usia seperti Mahin masih ingin bersenang-senang, merasakan kebebasan, sambil mempercantik diri sebagaimana yang ia mau. Sudah 30 tahun sejak suaminya meninggal, dan kini Mahin hidup dalam sepi. Merawat taman dan memasak bagi teman-teman sesama janda tua yang sekarang hanya mampu berkumpul setahun sekali jadi rutinitas hariannya.

Mahin memutuskan datang ke sebuah kafe untuk menghilangkan penat, berharap bisa "merasa trendi" seperti para muda-mudi. Masalahnya, saya bingung harus memesan apa. "Kami punya affogato", kata pelayan kafe. Tapi Mahin tidak tahu apa itu affogato dan berakhir meminta teh biasa. Masih adakah ruang bagi lansia untuk merasakan bahagia? 

Lalu terjadilah pertemuan dengan Faramarz (Esmail Mehrabi), mantan tentara yang kini bekerja sebagai sopir taksi. Percikan di hati Mahin seketika kembali. Dia ajak Faramarz menghabiskan malam di rumahnya, tentu secara diam-diam supaya tidak diketahui moral tetangga atau polisi. Ternyata Faramarz adalah laki-laki baik, yang merasa perlu membantu si perempuan menyiapkan suguhan dan tak mengira sebagai pelayan.

Pada fase inilah Maryam Moghaddam dan Behtash Sanaeeha sebagai sutradara sekaligus penulis naskah mengajak penonton menyelami dinamika dua lansia tersebut, yang seolah tengah mengalami puber kedua. Rumusan romansa generik mengenai “pertemuan yang ditakdirkan” menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna karena dua tokoh utamanya adalah lansia. 

Mahin dan Faramarz membicarakan soal hidup dan kehilangan yang masing-masing pernah alami, ditemani wine (yang tentunya dilarang oleh pemerintah) dan masakan hangat, lalu berdansa diiringi lagu lawas. Sesekali, Maryam dan Behtash menyelipkan humor menggelitik yang membantu memberi gambaran tentang betapa dua lansia ini, setelah puluhan tahun tak memadu kasih, tampak polos layaknya remaja yang baru pertama kali mengenal cinta.

Lily Farhadpour dan Esmail Mehrabi sama-sama piawai mentransmisikan rasa melalui akting mereka. Mata dua pelakon senior ini selalu berseri-seri, dan penonton pun ikut dibuat merasakan kebahagiaan serupa. My Favorite Cake memang film yang kecil (mayoritas durasinya berlatar di rumah Mahin) namun mempunyai hati yang sangat besar. 

Tapi jangan lupa, kisahnya bermula dari keresahan sang protagonis terkait persekusi terhadap perempuan di negaranya, pula sulitnya orang tua mengejar kesenangan. Di tengah tawa dan kehangatan kisahnya, tetap sulit untuk menampik kekhawatiran akan datangnya "perusak", entah dalam wujud tetangga yang menyebalkan, campur tangan polisi moral, atau perihal kondisi tubuh karakternya yang berada di bawah pengaruh alkohol. Seolah ada kegelapan yang diam-diam terus mengintip dan siap menampilkan pemandangan sempurna di depan mata kita.
Pada akhirnya My Favorite Cake akan menampilkan ketimpangan luar biasa dalam isu gender yang ia angkat. Bahkan dalam kematian pun, laki-laki tetap dimudahkan untuk mewujudkan impiannya serta merasakan kebahagiaan, sementara perempuan tertinggal sebatang kara, kembali ditikam rasa sepi, sambil menanti kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin dibawa oleh masa depan.

0 komentar:

Posting Komentar