SAMSARA
Tema cerita memang terbatas, namun eksplorasi dalam eksekusi bersifat tanpa batas. Itulah yang dibuktikan Garin Nugroho melalui Samsara. Dari luar ia "cuma" satu lagi kisah soal pesugihan serta romansa berbumbu anekdot "cinta ditolak dukun bertindak", tapi Garin mengemasnya secara kreatif, dengan melahirkan dunia realisme magis yang menghipnotis berisi serangkaian peleburan unik antara hal-hal yang saling berkontradiksi.Mengambil latar Bali pada tahun 1930-an tatkala banyak percampuran budaya mulai terjadi, Garin menuturkan hubungan Darta (Ario Bayu) si rakyat jelata dan Sinta (Juliet Burnett) yang merupakan anak perempuan blasteran dari sebuah keluarga ningrat. Persahabatan yang terjalin sejak kecil lama-lama berkembang menjadi percintaan. Sayangnya, jurang kelas membuat orang tua Sinta melawan kerasnya romansa mereka.
Darta yang merasa harga dirinya terluka nekat melakukan ritual memuja Raja Monyet (I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra) guna memperoleh harta berlimpah. Sebaliknya, kelak orang terkasih Darta bakal dibawa ke kerajaan monyet. Kunjungan pertama Darta ke dunia mistis tersebut melahirkan salah satu sekuen paling mengesankan dalam film Indonesia beberapa waktu terakhir.
Di situlah peleburan yang Garin coba lakukan semakin menampakkan wujudnya, tatkala musik gubahan Wayan Sudirana dan Kasimyn menggabungkan alunan gamelan dengan gempuran suara elektronik. Seiring terjadinya pertemuan dunia realis (manusia) dan magis (para siluman), musiknya pun menyatukan pendekatan tradisional dan modern. Sewaktu tubuh Darta bergetar hebat dalam fase trance, saya pun ikut terhipnotis oleh rumusan estetika sang sutradara.
Peleburan semacam itu tersebar di sepanjang durasi yang terbagi dalam enam babak (plus prolog dan epilog). Realis dan mistisis, tradisional dan modern, kaya dan miskin, pribumi dan keturunan, hingga subur laki-laki dan perempuan. Garin mengingatkan seolah-olah bahwa penyatuan dua hal berlawanan merupakan pemandangan yang sejatinya jamak kita jumpai di keseharian. Bukan perihal aneh, tidak pula destruktif, justru saling melengkapi bahkan mempercantik.
Samsara punya estetika luar biasa, dari sinematografi cantik garapan Batara Goempar yang begitu piawai memainkan pencahayaan alias tidak asal menerapkan warna hitam dan putih, hingga kehebatan tata artistik buatan Dandy Septian dalam menciptakan dunia magis realisme yang terasa hampir sekaligus aneh.
Film berstatus bisu sekaligus hitam putih, lengkap dengan rasio aspek 1.33 : 1, wajar bila Garin menyelipkan beberapa penghormatan ke judul-judul klasik, termasuk bagaimana shot penutupnya mengingatkan ke "adegan mata" di Un Chien Andalou (1929), di mana Garin, sama seperti Luis Buñuel, membahas tentang "menonton kekerasan". Bukankah kita semua juga lelah karena kekerasan melihat tiada ujung di dunia ini?






0 komentar:
Posting Komentar