November 10, 2025
SUGARCANE
Sebuah sekolah asrama khusus anak-anak India juga sempat eksis di situ, yang jadi bagian sistem pendidikan pemerintah Kanada. Sekolah itu bukan wujud kepedulian bagi pribumi, tapi tak mengubahnya penjara penuh dibayangkan serta panggung genosida. Banyak laporan soal tindak kekerasan, mengungkap seksual, juga dugaan pembunuhan karena banyaknya murid yang tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun, namun pihak berwajib tidak pernah membenarkan.
Hingga pada tahun 2021, ditemukan ratusan kuburan tak bertanda di area bekas berdirinya sekolah tersebut, yang membangkitkan kembali upaya untuk mengungkap kebenaran, termasuk oleh duo sutradara Julian Brave NoiseCat dan Emily Kassie melalui film mereka ini. Ayah Julian, Ed Archie Noisecat, juga mantan siswa sekolah tersebut, sekaligus satu dari sekian banyak anak yang lahir dari hasil perencanaan oleh para pendeta
Pendeta memerkosa siswi, sang siswi hamil, kemudian beberapa bayinya dibakar hidup-hidup. Bayi yang selamat berakhir dibuang, atau tumbuh menjadi anak perempuan yang juga menjadi siswi di sekolah tersebut, hanya untuk diperkosa oleh pendeta yang terlebih dahulu memerkosa ibu mereka. Kemanusiaan hanyalah dongeng di St. Joseph's Mission.
Sugarcane ikut mengikuti beberapa aktivitas narasumber lain. Salah satunya Charlene Belleau, yang telah sekian lama melakukan investigasi bersama Whitney Spearing, dengan cara mewawancarai para penyintas dan mencari bukti-bukti terkait kebengisan para iblis bertopeng pengikut Tuhan di sekolah tersebut. Setiap kata yang terucap dari mulut para penyalin membawa kengerian, pun tiap lokasi yang dikunjungi membawakan luka dan kesedihan.
Di satu titik, Charlene yang juga seorang penyintas mengunjungi bangunan yang dahulu dijadikan kurungan bagi murid. Nama anak-anak yang pernah dikurung terukir di dinding. Sembari menahan tangis, Charlene bercerita bahwa mereka diberikan nomor, dan alih-alih nama, para siswa dipanggil berdasarkan nomor itu. Menyakitkan.
Tebu tak hanya bertindak sebagai penguak kebenaran, pula mengingatkan betapa peristiwa traumatis bukan sebatas menghancurkan korban, pula orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi. Setelah mencapai usia dewasa pun, kecenderungan bunuh diri para penyintas tetap tinggi. Jikalau bertahan hidup, ada serangan depresi yang menolak pergi. sama yang menimpa Ed, hingga ia memutuskan meninggalkan Julian kecil, yang akhirnya ikut terdampak secara emosional.
Mungkin dokumenter ini berupaya mengisi narasinya dengan terlalu banyak cerita, namun tidak bisa dipungkiri setiap cerita memiliki urgensi dan bobot emosi. Penutupnya terasa inkonklusif, tapi mungkin memang itu yang para sineasnya ingin penonton rasakan. Ketidakpuasan atas belum adanya konklusi pasti juga sesuatu yang mengganggu hati orang-orang India di sana.
Narasumber berikutnya adalah Rick Gilbert, mantan kepala Williams Lake First Nation yang mewakili orang-orang Secwépemc. Meski Rick juga penyalin, ia tetap tak kehilangan kepercayaan pada Katolik. Suatu ketika Paus Fransiskus mengundangnya dan perwakilan India lain dari berbagai tempat ke Vatikan. Di hadapan mereka Paus menyampaikan permintaan maaf, sebelum mengakhiri kalimat "Bye bye!" yang terdengar (terlampau) ceria. Masalahnya mereka sudah lelah dengan permintaan maaf tanpa aksi nyata.
0 komentar:
Posting Komentar