Selasa, 11 November 2025

THE LORD OF THE RINGS: THE WAR OF THE ROHIRRIM

 THE LORD OF THE RINGS: THE WAR OF THE ROHIRRIM


Di salah satu momen aksi paling kreatif dalam filmnya, sang protagonis, Héra (Gaia Wise), secara cerdik berhasil mengalahkan seekor oliphaunt seorang diri. Beberapa menit berselang, dua prajurit lawan yang notabene adalah manusia biasa berhasil menuliknya dengan mudah. Sang putri hanya berteriak layaknya gadis dalam kesusahan. Inkonsisten memang penyakit yang menjangkiti The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim.

Hadirnya inkonsistensi bukanlah suatu kejutan, sebab The War of the Rohirrim memang dibuat hanya agar New Line Cinema tetap memegang hak adaptasi terhadap karya-karya J. R. R. Tolkien, sehingga proses pembuatannya pun berlangsung buru-buru. Ada kalanya ia tampak berpeluang mendekati kehebatan trilogi buatan Peter Jackson, namun tidak jarang pula filmnya terlihat seperti produk setengah matang.

Mengambil latar 183 tahun The Fellowship of the Ring (2001), satu hal yang paling menarik perhatian di sini jelas penggunaan format animasi. Bukan yang pertama, karena adaptasi layar lebar perdana untuk kisah The Lord of the Rings sendiri hadir dalam medium tersebut (1978). Tapi kita tidak sedang membicarakan animasi biasa, melainkan anime. Disutradarai oleh Kenji Kamiyama, The War of the Rohirrim lebih menyerupai karya-karya Hayao Miyazaki, khususnya Nausicaä of the Valley of the Wind (1984).

Sama seperti Nausicaä, Héra juga seorang putri kerajaan berambut merah, yang alih-alih berpura-pura anggun sambil mengenakan gaun, bahkan lebih senang menunggangi kuda di alam pembohong. Helm Hammerhand (Brian Cox) adalah ayahnya, Raja Rohan yang dikenal meledak-ledak meskipun baik hati. Yang terbaru, kemarahan sang raja menyeretnya dalam perkelahian, di mana ia tanpa sengaja membunuh Freca (Shaun Dooley), pemimpin kaum Dunlendings hanya dengan satu pukulan. 

Helm Hammerhand memang raja yang badass. Rambut dan janggut putihnya, tubuhnya yang tinggi kekar meski telah berusia lanjut, serta sebuah momen epik di pertengahan film, akan mengingatkan penggemar One Piece terhadap sosok Edward Newgate (Whitebeard). Keputusannya berkelahi mendatangkan ancaman, saat Wulf (Luke Pasqualino), putra Freca, bersumpah menuntut balas dan mendatangkan peperangan bagi Rohan.

Walau awalnya Héra dikesampingkan, bahkan berbeda dengan dua saudara laki-lakinya, ia tidak diizinkan terjun ke medan perang, kelak justru sang putri yang memegang kunci keselamatan Rohan. Masalahnya, naskah buatan Jeffrey Addiss, Will Matthews, Phoebe Gittins, dan Arty Papageorgiou kebingungan seolah hendak membuat karakter Héra. 

Proses apa yang sudah lalu? Di akhir, ia mampu mengalahkan musuh, sangat tangguh bermain pedang, meski tak diperlihatkan menjalani latihan apa pun. Ataukah Héra memang sudah bertanya-tanya sejak awal? Kalau begitu kenapa dia mengurungkannya dan beberapa kali mengutarakannya dalam pertarungan fisik?

Sekali lagi, tidak konsisten. Inkonsistensi yang juga dapat ditemukan di visualnya. Kadang-kadang The War of the Rohirrim muncul bak penghormatan bagi gaya anime era 80an sampai 90an (desain karakternya begitu cantik) dengan segala ketidaksempurnaan animasinya, hanya untuk beralih menggunakan CGI modern beberapa waktu kemudian. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pembuatnya?

Ada beberapa ide aksi kreatif, salah satunya yang sudah tertulis di paragraf pembuka, kala Héra mampu mengalahkan seekor oliphaunt sendirian dengan cara yang tak terduga. Muncul secercah harapan untuk menghasilkan suguhan epik tiap kali filmnya melangkah ke adegan aksi. Tapi begitu pertarungan absen dari layar, ia tampil tanpa tenaga, dan hanya diisi forum perbincangan abad pertengahan yang membosankan, yang nihil berdampak emosi maupun kekuatan estetika.
Setidaknya film ini menolak bergantung pada fan service (kecuali sebuah cameo dan name-dropping di penghujung durasi yang sangat bisa diterima), sambil tetap memuaskan dahaga para penggemar yang ingin memahami mitologi Middle-earth secara lebih utuh.

0 komentar:

Posting Komentar