Agustus 28, 2025
KEDARNATH (2018)
"Gagasan pemberontak mungkin terdengar romantis, tapi itu telah menghancurkan yang terbaik dari yang lain" demikian ujar Lata (Sonali Sachdev) kepada sang puteri, Mukku (Sara Ali Khan) yang menolak untuk dijodohkan dengan Kullu (Nishant Dahiya) menyukai Brijraaj (Nitish Bharadwaj) ayah Mukku yang seorang pemimpin pendeta Hindu yang dihormati warga setempat dengan kasta Brahmanya. Dari sini dapat diketahui bahwa Kedarnath menggunakan pola klasik "Siti Nurbaya Story" di mana kasta lebih penting daripada cinta, pola pikir kolot atas dasar menuruti norma harus menghadapi gejolak kawula muda.
Dengan demikian, mudah untuk bersimpati terhadap karakter utama, pula juga membenci hal yang mengekangnya. Kita menginginkan kebebasan terhadap Mukku yang mencintai Mansoor Khan (Sushant Singh Rajput) seorang pithoo (semacam portir pengangkut orang) beragama Islam yang mengerti perasaan sang wanita daripada keluarganya yang kerap berdalih memberikan sebuah masa depan yang layak untuk sang anak. Padahal perkara cinta bukan hanya sebatas mengenai harta, melainkan ketulusan hati pula perasaan saling mencintai.
Dua pola pikir bersebrangan ini nantinya akan menyulut konflik utama Kedarnath, di samping perbedaan agama pula kasta yang mengikat, menyulitkan mereka untuk bersama. Naskah garapan Abhishek Kapoor (Rock On!!, Kai Po Che!, Fitoor) yang ikut merangkap sebagi sutradara bersama Kanika Dhillon (Ra.One, Manmarziyaan) setia mengikuti jalur linier-di mana hal tersebut dijadikan sebagai bahan yang juga menampilkan romansa Mukku-Mansoor-yang meski formulaik, namun ampuh menyulut ketertarikan tersendiri.
Kedarnath yang merupakan sebuah kuil di Uttarakhand menjadi Saksi bisu di mana keduanya menyatukan asmara sekaligus tempat di mana bencana datang. Terdapat kumpulan permasalahan yang kompleks sebagai penghambat romansa dua manusia-yang kemudian menjadi sebuah pisau bermata dua kala sang sutradara hanya sekedar menampilkannya di atas permukaan, urung adanya pemanfaatan yang juga digunakan terhadap penceritaan.
Mulai dari agama, kasta, budaya hingga isu sekuler dinamis turut ditampilkan oleh Abhishek Kapoor-yang gagal tampil menohok akibat melalaikan sebuah potensi yang urung mengisi. Padahal, dialog Mansoor dengan salah seorang peziarah di paruh pertama menyentil isu anti-agamis yang direduksi oleh Kapoor dengan sentuhan humor pula pesan perdamaian.
Beruntung, Kedarnath mempunyai Sara Ali Khan yang dalam penampilannya tampil menawan. Sushant Singh Rajput kembali memamerkan sosok lelaki dengan hati yang dengan mudah meraih simpati. Sementara Nitish Bharadwaj dan Nishant Dahiya bakal dengan mudah kita benci. Pun, dari segi artistik, kamera yang dibidik dari Tushar Kanti Ray selalu menangkap gambar indah berupa bentangan bukit dengan mata air mengalir, atau saat ia menagkap sudut demi sudut rumah menggunakan drone.
Seperti yang telah kita ketahui, konklusinya akan bermuara pada sebuah bencana berupa banjir bandang yang menenggelamkan Uttarakhand pada tahun 2013 silam. Elemen tersebut memang menyertakan cerita yang belum sempat dijawantahkan. Meski sukar untuk menolak tak terkagum-kagum dengan efek visual mumpuni yang meski memberikan tanggung jawab, mampu memuat sebuah dramatisasi yang cukup menyentuh.
Memilih opsi tersebut jelas beresiko. Terdapat unsur cerita yang dikorbankan pula realitas terkait korban yang urung tergambarkan. Berbekal sebuah montase berupa sisipan video, yang mana adalah sebuah metode penggampangan penutup ketidakcakapan sang sutradara dalam mengkreasi adegan. Kedarnath jelas penuh lubang, meski usungan pesan mengenai perbuatan baik menghantarkan filmnya pada sebuah "the art of leting go" mulus tersampaikan.
0 komentar:
Posting Komentar