Agustus 28, 2025
THE HOLE IN THE GROUND (2019)
Sebelumnya, kita pernah menyaksikan horor yang mengetengahkan relasi ibu-anak dalam The Babadook (2014) hingga The Prodigy (2019) yang masing-masing berjalan dalam arah "hipster" di mana kecemasan, ketakutan, studi karakter hingga atmosfer yang ditekankan. Lalu mengikuti kesuksesan tersebut, penyutradaraan debut Lee Cronin membagikan elemen tersebut sambil tetap ingin merangkul para penonton pemuja hiburan sarat jump scar. Hasilnya adalah sebuah inkonsistensi yang tak berimbang.
Sarah (Seána Kerslake) dan sang putera, Chris (James Quinn Markey) baru saja pindah dari kota ke sebuah pedesaan yang berada di pinggir hutan di Irlandia. Kepindahan Sarah disiratkan naskahnya akibat perilaku kasar sang suami. Sarah memang masih terguncang, sementara Chris adalah sosok bocah pendiam yang jauh dari keramaian sosial dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan action figure miliknya. Tentu, niat semula yang diharapkan Sarah takkan berjalan baik-baik saja, terutama pasca ia bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Noreen (Kati Outinen) yang mengaku telah melindas sang putera setelah meyakini bahwa seorang makhluk menyerupai wajah sang putera.
Sarah yang awalnya percaya bahwa Noreen adalah wanita gila-yang seperti masyarakat katakan-kemudian mengalami hal serupa yang ia utarakan. Suatu malam, Sarah yang tengah mencari Chris menemukan sebuah lubang raksasa di tengah hutan yang menganga di permukaan tanah. Semula ia beranggapan bahwa lubang tersebut akibat peristiwa alam berupa jatuhnya meteror. Namun, tanpa ia sadari, lubang tersebut adalah sumber masalah yang tengah menerpanya.
Naskah garapan Lee Cronin bersama Stephen Shields menyimpan setumpuk potensi yang kemudian memunculkan sebuah gambaran menakutkan yang dapat memunculkan mimpi buruk tersendiri. Namun, dua penulis tersebut seolah lupa akan adanya sebuah elaborasi yang menggantikan sarat ambiguitas di jelaskan begitu saja secara terang-terangan. Hal ini tentu mengurangi rasa terkait misteri yang coba dipecahkan. Terlebih lagi, saat eksekusinya berjalan pelan sebelum melewati sebuah pengadeganan.
Bukan sebuah dosa pula haram hukumnya jika hal tersebut diterapkan-asalkan sesuai aturan. Seperti yang telah saya singgung, Cronin berupaya menyeimbangkan dua elemen yang sukar untuk disatukan. Hasilnya adalah sebuah kecanggungan pula perasaan yang sukar diutarakan. Bukan berarti jelek, pasalnya Lubang di Tanah urung menapaki dua elemen tersebut secara merata. Meski sukar untuk tidak menolak menikmati gelaran jump scar yang dibangun tepat sasaran.
Pun, naskahnya menyimpan sebuah ketertarikan seiring berubahnya perilaku Chris yang tidak seperti biasanya. Ia mungkin menjadi sosok penurut pula tak banyak pembicaraan seperti yang diinginkan Sarah. Namun ada sebuah perasaan tak karuan yang menggelayuti hati Sarah mendapati sikap Chris yang tidak seperti dirinya. Dari sini, The Hole in the Ground juga termasuk sisi kelam dari parenting, yakni berupa trauma pribadi yang turut berdampak pada tumbuh kembang anak.
Cronin memang menjadikan filmnya untuk tampil kelam. Pun, pemilihan lokasi pula penerapan gradasi warna sejalan dengan apa yang diharapkan. Namun tidak dengan scoring buatan Stephen McKeon (The Tiger's Tail, Blind Fight) yang alih-alih tampil menyeramkan justru merusak gendang telinga ketika volume suara kerap meningkat. Padahal, teror tampil mencekam kala Cronin memilih opsi untuk tekanan kesunyian, sebutlah adegan saat Chris menyanyikan sebuah lagu yang kemudian diiringi tepukan tangan.
Konklusinya tak menghadirkan sebuah penebusan yang setimpal kala semuanya tertutup begitu menggampangkan pula sarat keklisean. Semuanya terselesaikan melalui suatu tindakan. Padahal, Kreslake menyimpan talenta yang menjanjikan jika diberikan sebuah tantangan. Sayang, semuanya urung dimanfaatkan saat eksekusi lebih memilih mengeliminasi dan nihil adanya kesolidan narasi maupun ketegangan.
0 komentar:
Posting Komentar