Sabtu, 30 Agustus 2025

7 DAYS (2018)

7 DAYS (2018)

7 Days sebagai karya keempat Panjapong Kongkanoy (Shambala, The Rooms, The Moment) mempunyai premis seputar menghargai memori pula memanfaatkan waktu sebelum menghabiskan waktu itu dalam sebuah hubungan percintaan. Tentu, intisari tersebut akan disibak ketika filmnya berakhir. Sementara pada proses eksekusinya Kongkanoy memanfaatkan ketidaktahuan penonton-yang mana ini adalah sebuah keharusan yang kemudian dienyahkan. Hasilnya adalah berakhirnya batin ketika kita mulai meraba proses introduksi-yang tercapainya keberhasilan ia tebus ketika mendekati konklusi.

Ya, ketidaktahuan kita sama seperti apa yang karakter utama kita rasakan, ketika Meen (Nittha Jirayungyurn) sulit untuk menghubungi keberadaan sang kekasih, Tan (Kan Kanthavorn) pasca sebuah pertengkaran antar keduanya. Tanpa diketahui Meen, Tan rupanya selalu berada di dekat Meen, setidaknya ia selalu bersamanya dan mendapati ponselnya berdering meski di tubuh lain yang berbeda. Ya, 7 Hari mengetengahkan sebuah jiwa yang mendapati dirinya selalu terbangun dalam tubuh yang berbeda setiap harinya, selama tujuh hari berturut-turut.

Tak mudah untuk Meen menyadari bahwa orang lain yang berada di perkebunan adalah Tan. Momen ini dijadikan Kongkanoy sebagai sebuah prosa filtrasi terhadap memori-di mana-di tiap Tan berganti tubuh, selalu ada sebuah kata yang mewakili frase bagi kehidupan Meen (passion, dream, soul, mind) yang disampaikan oleh orang terdekat atau bahkan yang pernah mereka lihat bersama, seperti kala Tan berada di tubuh seorang pria gay bernama Giorgio (Lawrence de Stefano) hingga tubuh sang rekan sesama koki (Ananda Everingham).

7 Hari meleburkan batas pula persyaratan penglihatan hingga pemikiran tentang sebuah hubungan. Bahwa sebuah hubungan bukan hanya perihal mengenai kontraksi rasa, melainkan juga melibatkan sebuah tempat hingga orang-orang sekitar yang memberikan warna bagi sebuah kenangan yang akan selalu di ingat. Pesan ini sejatinya sampai dengan tepat, bahkan berpotensi menusuk perasaan-andai juga dibarengi persentasi sempurna bagi filmnya.

Permasalahan yang menghalangi lajur penceritaan 7 Hari ialah pondasi filmnya-yang terkadang kurang berimbang. Dalam prosesnya, terdapat karakter baru yang hendak menghantarkan sebuah pesan seorang Tan terhadap Meen, ketidakberimbangan inilah yang menjadi kendala kala kehadiran seseorang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi perasaan Meen begitupun sebaliknya. Pun, Kongkanoy menebarkan beberapa humor yang bernasib sama seperti hasil eksekusinya, yakni tabrak-dan-melewatkan.

Hingga saat konklusi tiba, dampak yang dihasilkan tidak terasa sepenuhnya. Ya, saya menitikan air mata ketika menemukan sebuah kejutan yang dihantarkan filmnya-meski tak sampai banjir air mata sebagaimana yang diharapkan. Berkat pembawaan penuh sensibilitas pula emosi mengoyak perasaan seorang Nittha Jirayungyurn momen tersebut terasa nyata-di tengah kekurangan porsi dalam menghadirkan sebuah jalinan chemistry bersama Kan Kanthavorn-yang mencakup masih bisa terasa.

Pun, dalam memandang sebuah makanan, jalur bersebrangan pun menimpa, termasuk perbedaan persepsi antara Tan (seorang koki) dan Meen (kritikus masakan). Apabila Tan gemar bereksperimen, lain halnya dengan Meen yang menurut aturan buku teks. Pun dalam kehidupan, Tan ingin melanglang buana sementara Meen ingin berada di zona nyaman. 7 Days mungkin gagal membentuk sebuah jalinan sempurna kehidupan-namun berhasil mewakili keduanya, daripada memilih maupun mengalah, 7 Days merangkul aspek kehidupan yang berbeda guna mencipatakan sebuah aspek terpenting dalam kehidupan: perjalanan berharga.


0 komentar:

Posting Komentar