Jumat, 29 Agustus 2025

THE NIGHT EATS THE WORLD (2018)

THE NIGHT EATS THE WORLD (2018)

Perlu saya tekankan sedari awal bahwa The Night Eats the World bukanlah sajian horor berbasis zombie konvensional-yang lebih mengedepankan serangan alih-alih penceritaan. Filmnya dibuka oleh sebuah pesta yang diadakan Fanny (Sigrid Bouaziz) mantan kekasih Sam (Anders Danielsen Lie) protagonis utama kita, Sam yang diundang dalam pesta tersebut menolak untuk menikmati pesta, terutama saat Fanny mengenalkan sang kekasih baru padanya. Bisa dilihat dari raut muka Sam, bahwa sejatinya ia masih menyimpan perasaan terhadap sang mantan kekasih.

Sam yang seorang musikus hanya menginginkan kaset-kaset miliknya yang masih tersimpan di ruang kerja Fanny. Sam kemudian mengunci diri dan tertidur lelap dan mendapati keadaan telah berubah setelah ia bangun. Rumah sudah kosong tak terkira, bercak darah di mana-mana, hingga ketika ia membuka pintu-Fanny kini telah berubah menjadi sesosok mayat hidup yang hendak menyerangnya. Sam terjebak di tengah kemacetan kota Paris yang kini terserang wabah zombie.

Mudah untuk menebak bagaimana naskah garapan Jérémie Guez (The Bouncer, Yves Saint Laurent) dan Guillaume Lemans (Point Blank, The Next Three Days) membawa filmnya ke ranah survival movie berbasis horor kontemplatif yang menyentuh ranah studi karakter. Pun, sang sutradara debutan asal Prancis, Dominique Rocher mengamini hal tersebut dengan menampilkan kesunyian serta perjuangan Sam bertahan hidup.

Mulai dari meregulasi stok makanan, mencari pakaian hingga sesekali memainkan alat musik dari alat dapur, sebagian besar durasi filmnya menampilkan hal demikian di tengah sebuah pencarian jalan keluar yang sukar ditemukan. Hingga nantinya akan bermuara pada sebuah pesan terkait "keluarlah, dan temukan jalan keluar!"

Seiring hari berganti, Sam mendapati dirinya sendiri dan membutuhkan pendamping. Sukar untuk tak menolak bahwa manusia adalah makhluk sosila-yang membutuhkan teman. Dalam salah satu adegan ia mencoba menangkap kucing guna dijadikan teman atau sesekali mengajak Alfred (Denis Lavant) zombie yang ia kurung di lift berbicara.

The Night Eats the World tampil dingin sepanjang eksekusi, nihil sebuah puluhan berupa serangan zombie-yang hanya tampil sesekali. Pun, sesekali tampil, pengadegannya kerap terasa tumpul, nyaris tanpa taji kala sang sutradara enggan melakukan sebuah modifikasi "baru" guna memancing sebuah atensi. Kita tahu Sam nantinya akan baik-baik saja, pun seiring berjalannya durasi-semuanya berjalan sesuai ekspetasi.

Berjalan pelan, kejenuhan kerap tak terganggu. Ada sebuah kelokan yang Rocher tampilkan, ketika ia juga memasukkan karakter Sarah (Golshifteh Farahani) penyintas yang entah dari mana datangnya masuk ke ruang lingkup kehidupan Sam. Ini sama sekali urung menampilkan sebuah urgensi kala Rocher menampilkan hal tersebut di belakangan, pun terkait penyutradaraan ia terlambat memberikan hati terhadap Sam-yang mana ini yang paling dibutuhkan ketika ingin menyampaikan sebuah koneksi kepada penonton yang berakhir pada sebuah kegagalan akibat penundaan..

Padahal, tersimpan setumpuk potensi guna dijadikan sebuah sajian yang berdaya tinggi. Rocher bermain dengan kesepian dan keputusasaan-yang mana emosi ini lazim mengiringi kehidupan. Aspek tersebut tersampaikan-meski tidak berdampak sepenuhnya. The Night Eats the World menyajikan semuanya secara sederhana, terlampau sederhana malahan.

Sangat memulai pula talenta berbakat macam Denis Lavant yang tersalurkan. Hingga sebuah konklusi di tampilkan, The Night Eats the World urung melakukan sebuah gebrakan selain selalu berada di jalur yang nyaman. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan pesan yang hendak disampaikan.

0 komentar:

Posting Komentar