Agustus 28, 2025
REVA: GUNA GUNA (2019)
Setidaknya, Reva: Guna Guna mempunyai deretan hantu “layak tonton” berkat tata rias Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Anak Hoki, Jaga Pocong) yang tak sekadar menaburkan bedak lalu membuat riasan asal jadi. Tiga hantu utamanya (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Mak Bongkok) tampil dalam bentuk memadahi. Namun, sebuah film horor tak hanya dinilai dari sosok hantunya saja, melainkan ikut berperan dalam sebuah cerita yang menunjang kehadirannya. Dari sini, Reva: Guna Guna bermasalah.
Tepat di ulang tahunnya yang ke-21, Reva (Angel Karamoy) menjadi tersangka atas kasus pembunuhan keluarganya, kecuali sang ayah (Ferry Salim) yang tidak mengira bahwa Reva melakukannya. Pasalnya, Reva adalah sosok periang pula penyayang keluarga. Demikian pula dengan Reva yang menolak bahwa ia merupakan pelaku utama, ia kukuh bahwa mereka dibunuh oleh tiga hantu yang menyerang keluarganya.
Dengan cepat naskah buatan Aviv Elham (Alas Pati, Arwah Tumbal Nyai, Jaga Pocong) melayangkan kenyataan bahwa Reva mengidap manic depression. Keputusan itu disampaikan oleh sang psikolog, Dr. Karina (Wulan Guritno) yang kemudian mengirim Reva untuk melakukan proses rehabilitasi di sebuah rumah sakit jiwa pasca persetujuan pihak berwenang-yang menampilkan sekilas nihil kedalaman.
Di rumah sakit jiwa Reva berada dalam pengawasan Nixon, diperankan oleh Marcelino Lefrandt lewat akting over-the-top-b-movie yang andai berada dalam jalur film tak serius akan tampil menyenangkan. Sayangnya, Reva: Guna Guna adalah film serius yang seiring berjalannya durasi, lambat laun terperosok ke sebuah jurang serius.
Ya, penggarapan Jose Poernomo (Gasing Tengkorak, Jailangkung, Silam) memang tak seburuk karya sebelumnya. Tetapi, filmnya kerap menanggalkan realita yang sukar diterima. Ini sejujurnya dimulai ketika filmnya di buka lewat pemandangan sel penjara seadanya, semakin jauh filmnya melangkah, semakin berlipat pula kejanggalan (atau keterikatan) yang menerpa filmnya.
Namun, saya masih mengapresiasi ketika Jose tak menjadikan filmnya sebatas kompilasi jump-scare (meski beberapa di antaranya kerap tampil mengganggu) ada sebuah jalan menjadikan filmnya sebagai sebuah sajian thriller-psikologis mencekam lengkap dengan aksi kejar-kejaran yang keren. Itu terjadi, ketika Reva diselamatkan oleh sang sahabat, Devi (Pamela Bowie-yang menjadi satu-satunya pelakon terbaik) guna kabur dari rumah sakit jiwa. Dari sini saya hendak memuji filmnya-yang kemudian ternodai oleh penyakit utama bawaannya.
Ya, momen tersebut juga menampilkan penggambaran naskahnya kala Nixon yang digambarkan sebagai pengawas ketat nan kejam yang dirusak lewat trik murahan. Ketimbang memeriksa CCTV yang merupakan cara mudah menemukan Reva, ia malah memilih menelusuri setiap sudut rumah sakit yang berakhir pada sebuah kegagalan. Karakterisasi penokohan filmnya patut diperdebatkan, namun apa maksudnya menanyakan sebuah alasan terhadap film yang kerap menanggalkan pemikiran?
Deretan jump scar-nya memang tak banyak, namun ketika Jose memunculkan hal tersebut ada sebuah batasan terkait adegan. Kesan seram yang dimiliki sang hantu seketika luntur ketika iringan musik pemekak gendang telinga hasil gubahan Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) menyeruak masuk memunculkan sebuah gangguan. Gangguan ini lebih menyakitkan daripada luka tusukan Gemet Aresan yang menimbulkan darah tetapi tak berujung merobek pakaian.
Jose memang ingin menampilkan sebuah kesenangan yang kemudian melupakan sebuah kejelian terhadap adegan detail. Meski di sisi lain, ada sebuah intensitas terselubung terkait kebersamaan Reva-Devi yang menyiratkan sebuah hubungan yang disajikan amat malu-malu, sementara ia dengan leluasa mengumpulkan kemolekan tubuh Angel Karamoy yang patut diperiksa substansinya.
Konklusinya luar biasa kacau, keputusan Jose membuka sebuah twist terkait pelaku utama tampil konyol dalam sebuah adegan tak kalah konyol yang kena tanggung jawab dalam memasukan elemen gore. Seketika itu juga naskah menampilkan sebuah pembatalan kembali yang patut untuk ditinjau pula ditertawakan. Dari sini saya mulai berpikir apakah Reva adalah titisan Carrie atau Sri Asih?
0 komentar:
Posting Komentar