Agustus 28, 2025
GRETA (2018)
Greta garapan Neil Jordan (The Crying Game, Interview with the Vampire, Byzantium) menerapkan sebuah thriller klasik di mana aksi menguntit tampil luar biasa menegangkan dan mencekam. Di sisi lain, ia juga turut memberikan gambaran kejamnya kehidupan perkotaan yang sulit ditebak, New York yang merupakan kota impian nyatanya menyimpan sebuah bahaya lebih besar dari tindakan sekadar membantu orang yang tak lantas menghasilkan buah kebaikan setimpal.
Frances McCullen (Chloƫ Grace Moretz) seorang pramusaji yang mengadu nasib di New York pasca kematian sang ibu dalam aksi menjaga jarak dari sang ayah (Colm Feore) yang workaholic menemukan sebuah tas berwarna hijau di busway yang ia naiki. Frances yang menjunjung tinggi nilai kebaikan hendak mengembalikannya kepada sang pemilik pasca ia membuka isi tas tersebut. Meskipun dilarang oleh sang sahabat, Erica Penn (Maika Monroe) yang mengutarakan bahwa sang pemilik tersebut adalah orang asing, Frances tetap kukuh dengan niatnya, mengantarkan tas milik seorang bernama Greta Hideg (Isabelle Huppert).
Sesampainya di sana, Greta yang merupakan seorang janda pengajar piano menjamu Frances dengan baik. Dari situlah, lambat laun hubungan keduanya terjalin. Bisa dipahami kedekatan mereka terjalin atas asas persamaan nasib. Greta yang kesepian dan merindukan sosok sang anak yang kuliah di Perancis, sementara Frances yang baru saja kehilangan sosok ibu yang ia rindukan. Keduanya sama-sama menerima, menghabiskan waktu bersama hingga Frances kemudian hubungan menarik pasca menemukan sebuah rahasia yang nantinya membahayakan dirinya sendiri.
Panggilan telepon masif yang tak terjawab, keberadaan yang siap sigap di mana saja membuat batin Frances meringis. Dalam momen di restoran tempat ia bekerja, Jordan menyajikan sebuah adegan menyantap makanan kaya akan suasana mencekam, Frances yang melayani Greta dibuat kelabakan karena sebuah intensitas pribadi terselubung juga dilibatkan, terutama ketika Greta mengucapkan sebuah perasaan pasca meneguk wine pesanannya. "Rasanya sepertimu, banyak janji yang mengecewakan".
Jordan yang bermain lewat karakter psikologis juga memperluas cakupan cerita dengan juga melibatkan sosok tercinta dalam jurang bahaya. Nyawa Erica maupun sang ayah ikut terimbas kelakuan Greta-yang membuat Frances dilema antara melanjutkan atau mengakhiri. Pilihan tersebut bak memakan buah simalakama-yang juga menggiring filmnya pada sebuah penyelesaian terlampau menggampangkan pasca Jordan banting setir mengakhiri pengadeganan yang membuat intensitas cerita awal juga terlemahkan
Bukan berarti sepenuhnya sarat sebuah kekacauan, saya tidak menampik bahwa pilihan Jordan sepenuhnya sebuah kesalahan. Niat Jordan dalam membungkus sajian thriller menegangkan lewat sebuah horor home invasi nyatanya masih menyimpan sebuah kesenangan. Terlebih kala ia ikut tampil menampilan karakter yang dimainkan oleh Stephen Rea-yang meski dalam durasi singkat-namun ampuh menyulut atensi.
Konklusinya mungkin tersaji lemah seiring memudarnya intensitas awal yang kian berubah. Ketimbang memainkan karakter psikologis, ia mengubah jalinan alur cerita akibat sebuah "jebakan orang gila" yang diselesaikan sarat simplifikasi-meski usaha sehingga berguna memberikan sebuah penghormatan tersendiri. Satu hal yang pasti bahwa Chloƫ Grace Moretz memberikan sebuah performa gemilang kala berhadapan dengan Greta maupun bersama Maika Monroe yang menjadi sosok sidekick bernyawa-yang kemudian dieliminasi sang sutradara demi sebuah hiburan paripurna.
Dari sini naskah garapan sang sutradara bersama Ray Wright (The Crazies) bermain dalam sajian psikologis-thriller klasik yang kemudian membuat penonton bergidik. Greta yang merupakan seorang wanita tua nyatanya menyimpan sebuah kelakuan eksentrik yang membahayakan nyawa Frances. Terus menguntit pun dimulai-yang berkat performa menawan seorang Huppert membuat penonton panik hanya berbekal melihat raut muka yang ia tampilkan serta kekukuhannya dalam jalan meminta maaf sungguh sebuah pengalaman yang mengerikan.
0 komentar:
Posting Komentar