Kamis, 28 Agustus 2025

THE CATCHER WAS A SPY (2018)

 THE CATCHER WAS A SPY (2018)

Dalam sebuah film yang memadukan unsur spionase di dalamnya, elemen yang paling menarik pula menegangkan bersumber dari perjalanan seorang mata-mata dalam mencari atau memecahkan masalah sambil tetap waspada dalam tugas tersebut. The Catcher Was a Spy garapan film Ben Lewin (The Sessions, Please Stand By) mungkin gagal mereplika sebuah aksi nyata dari tumpukan kisah mengenai Perang Dunia II.

Disadur dari novel berjudul sama karya Nicholas Dawidoff, The Catcher Was a Spy mengisahkan Morris "Moe" Berg (Paul Rudd) mantan pemain menembak yang kemudian direkrut menjadi seorang mata-mata untuk Amerika. Tugas Rudd adalah membunuh seorang fisikawan Jerman, Werner Heisenberg (Mark Strong) ilmuwan Jerman peraih Nobel yang diminta Nazi untuk membuat bom atom guna memenangkan Jerman pada Perang Dunia II.

Naskah tulisan hasil Robert Rodat (Saving Private Ryan, Thor: The Dark World) termasuk ranah psikologis seorang Moe, di mana ia sering membahas orientasi seksualnya meskipun hidup dalam satu atap bersama sang kekasih, Estella Huni (Sienna Miller) yang tak kunjung datang ia menikah, di samping kenyataan bahwa ia adalah seorang Yahudi yang menguasai tujuh bahasa pula lulusan sarjana dari Universitas terbaik.

Itulah mengapa ia direkrut oleh Pejabat teras OSS (Jeff Daniels) dalam misi negara bersama Robert Furman (Guy Pearce) dan seorang ahli fisika, Samuel Goudsmit (Paul Giamatti) di tengah dilema yang menjangkitinya. Pasalnya, Berg adalah murid Heisenberg, namun untuk urusan negara semuanya tidaklah sama, “Aku siap mati demi negaraku”, demikian ucap Berg.

Meski mengikuti elemen formulaik berupa pengadeganan linier dengan beberpa sentuhan flashback, penyutradaraan Lewin bermasalah kala ia kurang piawai membangun ketegangan. Seperti yang telah saya singgung di atas, The Catcher Was a Spy kehilangan daya karena ketiadaan momen penyulut atensi kala memasuki adegan spionase yang berjalan datar di samping penceritaan pelan yang kian diterapkan.

Ini juga terjadi pada penggunaan dramanya, di mana unsur psikologis Berg urung disentuh secara mendalam. Padahal, ini akan menjadi sebuah gangguan tersendiri kala perasaan sang tokoh ikut mencampuri tugas negara. Meskipun demikian, Paul Rudd menampilkan sebuah pergolakan rasa hanya dalam mewujudkan muka yang masih bisa dirasakan di samping naskah urung memberikan sebuah panggung sempurna bagi dirinya.

Kelemahan lain yang turut menimpa The Catcher Was a Spy adalah intensitas menguliti sebuah fakta yang gagal akibat terciptanya nihilnya sebuah pemandangan yang benar-benar nyata. Alhasil, tidak-tidaknya menarik dari filmnya tenggelam begitu saja selama durasinya 98 menit. Padahal, bidang teknis berupa properti sangat mumpuni dan memberikan sebuah ciri khas tersendiri yang urung diimbangi dengan sebuah cerita yang pasti.

Mengenai konklusi, The Catcher Was a Spy memang setia pada sumber adapatasi yang pada titik ini juga melayangkan sebuah pesan terkait praduga berbekal penislain secara fisik serta pemikiran yang kerap tak sejalan dengan kenyataan. Konklusinya tersaji lemah, nihil sebuah gebrakan meski usungan pesan sejatinya tersampaikan.


0 komentar:

Posting Komentar