Agustus 28, 2025
47 METERS DOWN: UNCAGED (2019)
Saya tahu betul harus bagaimana menyikapi tontonan macam 47 Meters Down: Uncaged yang merupakan tontonan perayaan kesuksesan (atau keinginan mengeruk finansial) pasca 47 Meters Down (2017) yang berhasil mengumpulkan modal utama sebanyak 12 kali lipat. Masih digawangi Johannes Roberts (The Other Side of the Door, 47 Meters Down, The Strangers: Prey at Night) 47 Meters Down: Uncaged tampil seperti kebanyakan tidak langsung-sekuel kebanyakan-yang mana kerap menanggalkan penceritaan-demi sebuah kesenangan sementara.
Pun, dalam penerapannya 47 Meters Down: Uncaged tampil lebih besar dari film pertama, baik itu dari bidang teknis maupun jajaran pemain yang kini tak hanya menampilkan dua orang pemain kecuali empat orang remaja wanita yang ingin disiksa. Mereka terdiri dari Mia (Sophie Nélisse) si protagonis utama dan sang saudara tiri, Sasha (Corinne Foxx) yang kemudian diajak sahabatnya, Alexa (Brianne Tju) dan Nicole (Sistine Stallone) untuk menghabiskan waktu di sebuah tempat rahasia di mana artefak bawah laut peninggalan suku Maya berada-dan menggagalkan rencana Mia dan Sasha yang awalnya ingin menyaksikan hiu putih di sebuah kapal.
Tentu, kita akan mengetahui bagaimana naskah hasil tulisan Ernest Riera (47 Meters Down) bersama sang sutradara melangkah, menjadikan tempat rahasia tersebut sebagai sumber sebuah bencana. Apresiasi patut dilayangkan kepada Reira yang setidaknya meluangkan waktu untuk memberikan latar belakang pada tokohnya-yang meski tampil sekelumit. Diceritakan bahwa Mia adalah korban perundungan di sekolah dan Sasha yang menolak membantu karena merasa terlalu populer. Hubungan renggang keduanya tentu akan berkebalikan ketika filmnya memasuki konklusi-yang mana gagal terasa karena kurangnya suatu keinginan yang benar-benar nyata.
Paruh pertama filmnya tampil melelahkan berkat percakapan nihil substansi yang memikat, hingga kala Roberts banting setir untuk melakukan pemanasan terkait teror kecanggungan pun terjadi. Terlebih lagi kala Roberts memulainya dengan menampilkan ikan fangtooth yang dimaksudkan sebagai "pengecoh" tampil konyol berkat keputusan nihil logika yang ia terapkan. Kata "logika" pun sulit untuk ditemukan di film ini, karena menurut Roberts sebuah karya kadang-kadang tidak memerlukan logika untuk menikmatinya.
Mengenyahkan soal logika, Roberts pun menampilkan barisan karakternya saling berbicara secara fasih di dalam air meskipun tanpa sebuah alat yang benar-benar terlihat. Saya curiga, alat scuba diving yang digunakan mereka memiliki pancaran sinar elektromagnetik penyalur suara tanpa harus tertempel di telinga. Semakin mengganggu tatkala naskahnya gemar Menyebutkan nama karakternya secara lantang hanya demi mengetahui keberadaan atau sekadar menanyakan pendapat.
Meski kurang cakap ketika membuka serangkaian teror, Roberts mampu menampilkan rangkaian momen yang berhasil menyulut sebuah klaustrofobia-meski sulit untuk mengatakan bahwa sepenuhnya berjalan sempurna. Kebanyakan tampil canggung demi mengulur durasi yang nantinya akan tumpah menjelang akhir. Keputusan tersebut sah-sah saja di gunakan, asal akan sesuai aturan. Bukan berarti mengulur tanpa memberikan ketegangan seperti yang dilakukan Roberts di sini.
Jajaran pemainnya tak menampilkan sebuah pertunjukan gemilang-lantaran urung adanya sebuah penokohan. Selain Mia dan Sasha, karakter lainnya sebatas calon korban yang siap direnggut nyawanya oleh sang hiu putih-yang gagal tampil menyeramkan akibat penceritaan menuntutnya sebagai hiu purba dengan mata buta, sementara riasan visual effect-tampil seadanya. Bahkan penampilan kentara terlihat buatan.
Kalau bukan karena 30 menit terakhir filmnya yang berhasil menciptakan kesenangan, 47 Meters Down: Uncaged mungkin akan tersaji tumpul. Roberts menumpahkan semua momen pamungkas utamanya dalam intensitas tinggi kaya atensi. Momen Andai seperti ini tampil sedari dini, 47 Meters Down: Uncaged berpotensi tampil sebagai sajian popcorn-movie beroktan tinggi.
0 komentar:
Posting Komentar