Senin, 04 Agustus 2025

DESPICABLE ME 4

 DESPICABLE ME 4


Butuh waktu 7 tahun guna merealisasikan franchise keempat dari Despicable Me yang fenomenal itu. Bagaimana tidak, lewat film perdana yang dirilis 14 tahun yang lalu kita diperkenalkan dengan makhluk kuning nan menggemaskan bernama Minions (yang mempunyai dua waralaba) yang popularitasnya sudah tak perlu diragukan lagi, menyasar kalangan balita, anak-anak hingga dewasa sekalipun. Berdasar hal itu, para pembuatnya bermaksud mengulangi (dan meraup pundi finansial) dengan menghadirkan Despicable Me 4 pasca dua tahun sebelumnya sukses dengan Minions: The Rise of Gru.

Waralaba terakhirnya memberikan kesegaran dengan memasukan banyak referensi akan eksploitasi genre, pun demikian yang saya harapkan dari film ini yang sayangnya berakhir meruntuhkan kepercayaan atas segala kesempatan yang diberikan. Despicable Me 4 seolah menegaskan bahwa franchise ini seharusnya sudah terhenti dan tidak perlu diperas lagi. Bukan tanpa alasan, pembuatnya pun sudah tidak peduli lagi dengan apa yang ditawarkan.

Selain fakta bahwa filmnya kali ini memperkenalkan anggota keluarga baru dalam wujud Gru Jr. buah hati Gru (Steve Carell) bersama Lucy (Kristen Wiig). Despicable Me 4 masih mempertahankan formula sama dalam setiap waralabanya, tidak jauh dari menambahkan karakter keluarga dan penjahat tentunya. Kali ini giliran Maxime Le Mal (Will Ferrell), mantan teman sekelas Gru yang menyimpan dendam pribadi selama bersekolah.
Hal itu semakin terjadi kala dalam sebuah reuni, Gru yang kini tergabung dalam AVL (Anti-Villain League) bermaksud untuk menangkap Maxime bersama sang istri, Valentina (Sofia Vergara, yang mencuri perhatian lewat celetukan khas-nya) dan mempermalukannya kembali. Pasca penangkapan Maxime, Gru memutuskan untuk menghabiskan banyak waktu dengan sang putra, namun semuanya terjadi saat Maxime ternyata berhasil meloloskan diri.

Berdasarkan hal itu, Silas (Steve Coogan), pimpinan AVL, meminta Gru untuk pindah ke Mayflower dan mengganti seluruh identitas dan pekerjaan keluarga demi keamanan bersama. Pindah ke Mayflower, rupanya menambah beban baru bagi Gru ketika Poppy Prescott (Joey King) ternyata mengetahui identitas Gru yang merupakan seorang penjahat dan meminta Gru untuk melakukan sebuah pencurian sekali lagi.
Ditulis naskahnya oleh Mike White (School of Rock, Pitch Perfect 3, Migration) bersama Ken Daurio (trilogi Despicable Me, Horton Hears a Who!) Despicable Me 4 tak memberikan sebuah pembaharuan lain selain menambahkan karakter. Premis dan konflik utamanya masih berkutat pada perjuangan Gru membasi penjahat yang kini dalam wujud Maxime Le Mal yang pada paruh pertama diberikan obat-obatan sebagai penjahat terbaik. Sepintas, pertanyaan mengganggu berkutat di kepala, jika benar ia merupakan salah satu penjahat berpengaruh, lalu selama ini di mana eksistensinya?

Cacat logika seperti itu tak berhenti sampai di sini, Despicable Me 4 pun menambahkan elemen superhero dalam wujud lima Minions hasil percobaan (nantinya disebut Mega Minions) yang tampilannya bak perkawinan X-Men dengan Fantastic Four, tentu secercah harapan muncul ke permukaan, yang nyata berlalu begitu saja akibat para pembuatnya yang tak memberikan urgensi lebih.
Bagaimana penonton mengenal para karakternya jika dalam sebagian besar durasi peran mereka hilang bak di telan bumi, baik Maxime maupun Mega Minions keduanya tak memberikan peran lebih selain sebagai pelengkap saja. Hal ini disebabkan oleh naskahnya yang terlalu panjang lebar dalam memberikan penceritaan, alhasil fokus utama menjadi teralihkan dan membosankan.

Ya. Belum pernah saya menonton franchise ini begitu membosankan dan menjemukkan di tengah naskahnya yang formulaik, baik itu kelucuan, ketegangan maupun hal mendasar seperti hiburan dari para karakternya yang urung didapat. Chris Renaud selaku sutrdara gagal memberikan sebuah magnet penarik perhatian dalam rangka menciptakan kesenangan.
Biarpun sang sutradara memberikan evolusi dengan menambahkan elemen superhero dan pernak-pernik K-Pop (yang persentasinya sangat ketinggalan zaman) tak mampu membantu Despicable Me 4 dari kebobrokan dan krisis identitas yang sudah tak dapat dipertahankan.

Puncaknya adalah pengadeganan menjelang konklusi yang memenuhi klimaks serba instan. Sekali lagi, filmnya sangat membosankan dengan segala kiasan mendasar yang entah sudah berapa kali diterapkan. Terlebih lagi, kali ini peranan Mega Minion tidak banyak membantu. Salah satu dialog yang dilontarkan para warga berujar “Aku Bosan dengan Superheroes” seolah mewakili keseluruhan filmnya secara tidak langsung. Sudah saatnya waralaba ini mencari inspirasi baru dengan keluar dari zona nyamannya sendiri.




0 komentar:

Posting Komentar