Agustus 04, 2025
KUASA GELAP
Mayoritas horor Indonesia memang jauh dari penggunaan tokoh-pernik Islam serta budaya Jawa yang mendominasi bioskop setiap minggunya. Harus diakui, stagnasi seperti itu masih sering terjadi, menjauhkan pola filmnya dari eksplorasi lain di luar dua elemen tersebut. Lalu hadirlah Kuasa Gelap, yang naskahnya ditulis oleh Andri Cahyadi, Vera Varidia, dan Robert Ronny (juga merangkap sebagai produser) membawa angin segar dalam wujud yang berbeda dengan tekanan sudut pandang katolik sebaliknya. Rukiah kini digantikan oleh eksorsime, ustadz dirubah menjadi pendeta, dan masjid sebagai tempat ibadah salat dialihkan oleh gereja ketika ibadah misa.
Penyegaran seperti ini layak untuk diapresiasi, meski disaat yang sama polanya sebatas 'mengganti' apa yang biasa kita lihat dalam horor arus utama dengan dua budaya tadi. Meski demikian, Kuasa Gelap yang disutradarai oleh Bobby Prasetyo (Kultus Iblis, Rumah Dinas Bapak, Thaghut) masih menyimpan setumpuk potensi yang tampil cukup mumpuni.
Semua berawal ketika Kayla (Lea Ciarachel) bersama sahabatnya, Cilla (Freya JKT48) memainkan jelangkung selepas pulang sekolah di kuburan. Tindakan tersebut dilakukan Kayla demi berkomunikasi dengan mendiang sang ayah dan meminta bantuan untuk memisahkan sang ibu, Maya (Astrid Tiar) dari kekasihnya yang hobi selingkuh. Semula semuanya berjalan lancar, sampai beberapa kejadian janggal membawa Kayla beserta ibunya dalam sebuah bahaya.
Pada saat yang sama, Romo Thomas (Jerome Kurnia) bermaksud untuk membatalkan diri dari sekolah tempat Kayla belajar, hal itu ia lakukan karena merasa imannya begitu lemah pasca kecelakaan yang menurunkan sang ibu dan adiknya. Meski Romo Roby (Joshua Pandelaki) menyayangkan keputusan Thomas, ia kemudian mengulur waktu sampai sebuah berita yang mengharuskannya untuk membantu Romo Rendra (Lukman Sardi) melakukan eksorsime terhadap Kayla.
Berlangsung selama 96 menit, Kuasa Gelap tampil padat dalam menuturkan kisahnya tanpa terkesan berlebihan. Pun, sedari paruh awalnya dibuka, ceritanya langsung mencengkram penonton lewat eksposisi menarik seputar ritual eksorsime yang ditampilkan cukup detail, terutama ketika Romo Thomas hendak membantu Romo Rendra, beragam persiapan filmnya jabarkan, salah satunya ialah dengan melakukan sarkamen pengakuan dosa yang menambahkan bobot bagi karakternya juga filmnya secara keseluruhan.
Sederhananya, Kuasa Gelap meluangkan waktu bercerita guna mengulik karakternya secara manusiawi. Hal ini menjadikan filmnya sarat akan relevansi, di mana kita melihat gambaran manusia yang tengah terluka dan bahkan menyimpan sebuah trauma hingga menutup rahasia masa lalu yang menurutnya begitu menyilaukan. Jembatan yang menampilkan unsur horor pun bukan sebatas kewajiban menakut-nakuti, namun mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pemegang kekuasaan.
Terkait tampilkan kejadian horor, Kuasa Gelap memang masih bergantung pada parade jumpscare generik yang mengumpulkan efektif berkat kepiawaian Bobby mengatur timing, pengalaman di film sebelumnya menambah pengetahuan sang sutradara di ranah positif dengan mengolah momen sederhana yang dalam arus utama horor-tampil tepat sasaran.
Demikian pula dengan asal-usul iblisnya yang menarik untuk disimak, di mana murid Lucifer bernama Zababel adalah dalang dari semua permasalahan. Kapan lagi entitas horor dalam film kita memiliki nama selain dari jenisnya? Kuasa Gelap menjawabnya dengan pasti, meskipun cacat mengenai lore-nya masih disembunyikan (mungkin untuk keperluan sekuel, mengingat filmnya berjalan sangat baik di box office).
Kepiawaian Bobby didukung oleh jajaran cast yang tak kalah mumpuni, Jerome Kurnia menambah bobot rasa lewat kejadian yang menghantui karakternya, Lukman Sardi tampil kuat seperti biasa, sementara Astrid Tiar dan Lea Ciarachel menyampaikan ketakutan karakternya dalam wujud ketidakberdayaan, demikian pula dengan penampilan singkat dan berkesan dari Freya JKT48 lewat celetukan sederhana khasnya.
Memasuki konklusi, filmnya sempat tertatih ketika pengadeganannya sangat terburu-buru pun minimnya eksplorasi terkait penangkapan gambarnya membuatnya kurang bertenaga dan sedikit monoton dalam membungkus kisahnya, apalagi proses eksorsisme sendiri mendekati ranah aksi ketika karakternya diharuskan melawan iblis yang menguasai jiwa sang korban. Sayangnya, Kuasa Gelap kurang bisa menangkap esensi tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar