Senin, 04 Agustus 2025

TANDUK SETAN (2024)

TANDUK SETAN (2024)

Judulnya Merujuk pada sebuah hadis yang mengatakan bahwa terbit dan terbenamnya matahari membentuk sebuah tanduk setan yang hingga kini para ulama pun masih memperdebatkan terkait pemaknaan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tersebut. Interpretasi seperti itu pun dilakukan oleh kedua sutradaranya yang masing-masing menggarap dua segmen yang berbeda dalam bungkus antologi yang mewakili Kelahiran (disutradarai oleh Amriy R. Suwardi) dan Kematian (disutradarai oleh Bobby Prasetyo) yang mengetengahkan dua dosa berbeda yang sering dilakukan oleh seorang makhluk bernama manusia.
Kelahiran menguraikan upaya Sumirah (Nur Mayati) yang ingin melahirkan setelah dua hari tak kunjung selesai, sementara sang suami, Jaya (Boy Muhammad) yang sulit diminta saat menunggu pengiriman sang buah hati. Pengadeganan Amriy bergerak begitu pelan seolah-olah menghindari pakem horor belakangan yang meluangkan waktu untuk bercerita lewat percakapan santai para pemerannya. Dari hasil penonton mengetahui informasi yang nantinya membentuk pola narasi yang seolah-olah menekankan ketidakbecusan Jaya dalam rumah tangga.
Ketika dua teman mengunjungi dan menanyakan terkait proses kelahiran sang jabang bayi, seolah sulit untuk bersimpati kepada Jaya yang rela menghabiskan malam hanya untuk bermain gim. Pun, demikian dalam menangani nafkah sang istri, ia memilih bekerja serabutan di saat temannya menyarankan untuk melamar pekerjaan, apalagi ia dihadapkan pada tugas yang lebih besar termasuk mempersiapkan akikah untuk sang anak. Respon Jaya begitu pesimis, ia merasa kurang percaya diri akan diterima di perusahaan dengan alasan postur badannya yang tidak ideal.

Berlangsung selama 55 menit, Kelahiran memang memberikan ruang lebih untuk bercerita sebagaimana ia diterapkan di babak pertama, namun memasuki babak kedua hingga menjelang konklusi yang menampilkan upaya Jaya mengantarkan sang istri mencari rumah sakit di daerah perkotaan, temponya tampil draggy akibat terlalu larut berkutat pada hal yang bisa dipadatkan. Meski di lain kesempatan, Amriy menggantikan jumpscare dengan mengandalkan suara maupun penampakan yang terdistorsi (seolah ingin menampilkan pemandangan manusia tatkala melihat hantu di dunia nyata) penting untuk diapresiasi.

Hal itu berbanding terbalik dengan Kematian yang hanya berdurasi 20 menit yang padat (meski keputusan terkait jomplangnya durasi tampil masih berdiskusi) berkat kepiawaian Bobby Prasetyo dalam mengarahkan cerita perihal menyambut ajal terlihat lebih mengerikan akibat penanaman susuk yang dikenakan semasa muda. Kondisi ini membuat Nur (Taskya Namya) kebingunan menyikapi kondisi sang ibu, sementara ayahnya (Rukman Rosadi) hanya duduk santai sambil menghisap rokok tanpa mengeluarkan kata-kata pun dari mulut. Tanduk Setan seolah ingin mengkritisi dinamika gender yang sayangnya tak pernah jelas ia utarakan.
Sebagai satu kesatuan yang utuh, Tanduk Setan memang tak tampil sepenuhnya memuaskan sebagaimana kerap terjadi dalam film yang menampilkan antologi, selalu ada kekurangan dan kelebihan dalam setiap segmen yang rasanya sulit untuk berimbang. Meskipun demikian, Tanduk Setan layak diberikan kesempatan karena ia menjauh dari pola horor arus utama yang kerap mengandalkan penampakan sebagai jualan, film ini justru sebaliknya, ketakutan berasal dari hal-hal yang tak tampak dan sadar atau tidak kerap kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni perihal dosa dan karma yang harus kita terima pasca melakukan suatu perbuatan.

0 komentar:

Posting Komentar