Agustus 03, 2025
CHHORII 2

Di dunia yang diisi oleh kebanyakan laki-laki yang menganut budaya patriarki, kehadiran Chhorii (2021) seolah menegaskan kembali bahwa mereka bukanlah satu-satunya yang mampu menciptakan kekuasan, membuat kendali, dan serta-merta berbuat sesuka hati. Vishal Furia selaku sutradara menampar anggapan tersebut sambil berpendapat bahwa harkat dan martabat wanita (termasuk para penerusnya) lebih mulia daripada mereka yang memuja sebuah budaya secara buta.
Selang empat tahun sejak film pertamanya sekaligus mengambil latar tujuh tahun pasca kisahnya, Chhorii 2 kembali melanjutkan kisah Sakshi (Nushrratt Bharuccha) yang selepas terbebas dari peristiwa mengancam nyawanya, kini melanjutkan hidup bersama Rani (Pallavi Ajay) dengan mengurus anak semata wayangnya, Ishani (Hardhika Sharma). Lewat bantuan Samar (Gashmeer Mahajani), polisi baik hati yang dengan senang hati memberikan tempatnya secara cuma-cuma, Sakshi perlahan tapi pasti mulai kembali menata kehidupannya.
Kebahagiaan tersebut tentu harus membahas batu sandungan ketika pada suatu malam, Ishani menghilang secara misterius. Sakshi, Rani, bersama Samar bahu-membahu mencari keberadaan Ishani yang kemudian terungkap bahwa puterinya kini berada dalam pengaruh bahaya sihir Daasi Ma (Soha Ali Khan), wanita misterius yang mengabdi kepada pemimpin pemuja patriarki.
Ditulis naskahnya oleh Vishal Furia (bersama Divya Prakash Dubey dan Ajit Jagtap), Chhorii 2 mungkin terkesan mengikuti pakem sekuel kebanyakan, di mana bahaya datang dari tempat yang sama. Namun, sebagaimana film terdahulunya yang merupakan adaptasi ulang dari film berbahasa Marathi berjudul Lapachhapi, Furia tak bertujuan memberikan terobosan, melainkan memberikan modifikasi bagi kisah yang pernah terjadi.
Budaya patriarki serta kecintaan buta terhadap tradisi yang teralienasi memang masih digunakan sebagai sebuah substansi, Furia pun menambahkan urgensi terkait praktik pernikahan dini yang pada kenyataanya masih lumrah terjadi, serta bagaimana wanita yang terlena oleh tipu daya pria ikut melanggengkan perbuatan jahanam atas dasar kodrat dan kesetiaan pun ikut disinggung, menciptakan sebuah dualisme yang mengarah dan tujuan.
Hal tersebut ditampilkan secara subtil melalui sebuah adegan "menyuapi sup" yang terkesan sederhana, namun menjadi jembatan sempurna bagi kisahnya dalam menampilkan sudut pandang yang berbeda. Kesubtilan pun sudah ditampilkan sedari awal filmnya, tatakla Sakshi yang mengajar di kelas ikut membahas isu perihal aadimanav (manusia gua) yang mempunyai pola pikir terbelakang merupakan interpretasi bagi cerita yang menanti.
Sederhananya, Chhorii 2 adalah sekuel yang mampu menampilkan kualitas setara dengan film terdahulunya. Furia sebagai sutradara, masih memberikan hati dan tujuan yang kuat melalui pengadeganannya yang tampil mumpuni, utamanya dalam memberikan variasi terhadap segala komentar sosial yang dikemas dengan cara yang begitu elegan.
sama dengan kewajiban sekuel yang harus tampil lebih besar dalam cakupan produksi maupun penceritaan, Chhorii 2 pun melakukan hal tersebut dengan berimbang, seolah memberikan sebuah jembatan bagi filmnya untuk terus berkembang, sebutlah sub-plot mengenai kondisi Ishani, yang pantang untuk terkena sinar matahari.
Elemen horornya pun ikut berkembang, jika di film pertama Vishal Furia hanya sebatas mengandalkan jumpscare dan scoring Berisi, kali ini ia bermain dengan gambar-gambar menakutkan yang tidak hanya sebatas menciptakan paranoia, namun juga membawa pesan perihal perlawanan dan pemberdayaan wanita sebagaimana tema yang dibawanya. Mungkin ada beberapa di antaranya yang tiba-tiba muncul, namun tidak juga mengganggu pemutaran cerita.
Deretan set-piece yang dibuat juga mendukung pengadeganan. Ladang tebu kini digantikan dengan lorong gelap dunia bawah, menciptakan sebuah rasa sesak yang tak segan menghancurkan karakternya dalam kehancuran hidup dan mati sambil mempertahankan misi menyelamatkan orang yang dicintai.
Nushrratt Baruccha tampil over-the-top, baik itu sebagai figur ibu maupun lambang kekuatan pemberdayaan wanita yang menolak kepatuhan pada tindak-tanduk pria, sementara Soha Ali Khan, berbekal membungkuk tajam dan sikap misteriusnya mewakili sisi yang berlawanan, terpaksa menuruti budaya yang membohongi logika dan perasaannya.
Menu paruh kedua, Chhorii 2 bertransformasi menjadi sebuah crowd-pleaser tanpa melupakan akar yang dibawanya, beberapa template yang biasa melekat pada film horor ikut ia bawa, semisal prosesi ritual dan tumbal yang berakhir masih tampil dengan membawa urgensi alih-alih sebatas paksaan yang seharusnya terjadi.
0 komentar:
Posting Komentar