Minggu, 03 Agustus 2025

DENDAM MALAM KELAM

DENDAM MALAM KELAM

Sederhanya, Dendam Malam Kelam adalah contoh sederhana bagaimana sebuah remake dibuat. Kehadirannya tak sebatas mengungkap sebuah kejutan semata, melainkan juga memperhatikan aspek cerita yang dibuat tepat guna. Singkatnya, film remake asal Spanyol berjudul El Cuerpo alias The Body (2012) ini tampil dengan presentasi serupa, tentunya dengan penyesuaian yang lebih membumi, salah satunya dengan menyisipkan ungkapan umpatan "haram jadah" yang entah kapan terakhir kali kita mendengarnya.
Semuanya bermula ketika jasad Sofia (Marissa Anita) dinyatakan menghilang di sebuah kamar mayat laboratorium forensik. Dalam mengatasi hal ini, detektif Arya (Bront Palarae) ditugaskan untuk menangani kasus tersebut. Jefri (Arya Saloka) suami Sofia adalah orang pertama yang dipanggil sekaligus dijadikan tersangka pasca gerak-gerik yang mencurigakan selepas dimintai keterangan. Meskipun belum sepenuhnya diketahui, informasi keliru terkait kematian Sofia sudah penonton, bahwasannya ia meninggal bukan akibat serangan jantung sebagaimna hasil vonis awal, melainkan dibunuh oleh Jefri guna menutupi perselingkuhannya dengan Sarah (Davina Karamoy), salah satu siswa didiknya.
Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Danial Rifki, Dendam Malam Kelam tampil langsung tanpa basa-basi melempar penonton pada konflik utama. Itulah mengapa atensi yang terjadi berdampak secara nyata. Memanfaatkan ruang sempit lewat dialog interogasi antara Arya dan Jefri pun tak pernah terasa melelahkan berkat kejelian Rifki dalam memainkan tempo serta menjaga intensitas filmnya tetap hidup.
Perjalanan dalam mengungkap rahasia dan kebenaran pun tak lantas tampil menggampangkan begitu saja, Danial Rifki jeli memberikan kelokan yang selalu membuat penonton terjaga di sana, semakin terasa nyata ketika gubahan musik buatan Mondo Gascoro selalu menemani, menguarkan nuansa noir yang khas dan sangat jarang ditemui dalam khasanah perfilman lokal.
Semula kehadiran Arya Saloka dalam menghidupkan karakter Jefri mungkin terasa berlebihan akibat tindak-tanduknya yang tidak sesuai dengan nada cerita, meski setelahnya sang aktor memainkan karakternya semakin hidup berkat kemelut dan ketakutan tersembunyi yang dapat ditangkap hanya lewat sorot matanya saja. Bront Palarae adalah tandem yang seimbang, baik itu dalam melakukan aksi yang mengancam Jefri maupun tatkala melontarkan sumpah serapah khasnya. Sementara Marissa Anita berbekal screen-time minim miliknya mampu menjadikan Sofia sebagai karakter kunci yang kehadirannya selalu memancarakan aura tersendiri.
Bukan tanpa cela, selama durasi 104 menit miliknya, Dendam Malam Kelam terjadi saat menjelang babak ketiga, utamanya dalam menampilkan momen kilas balik mengenai pertemuan serta kebersamaan Jefri dan Sarah yang dibalut oleh sekuen dramatis, mengandalkan lagu bernuansa pop kekinian. Bukannya menguatkan penceritaan, kehadirannya terkesan tidak selaras dengan nuansa filmnya yang tersusun atas instrumental yang khas, terlebih transisi yang dihadirkan pun kentara begitu kasar.
Untungnya hal tersebut merupakan poin minor yang tidak juga mengganggu keseluruhan cerita, terutama dalam membuka tirai sebenarnya di penghujung film, Plot twist-nya mungkin tidak dianggap baru, namun selaras dengan judul serta esensi filmnya. Sementara itu, nomor trek Dendam Malam Kelam yang dinyanyikan sekaligus diciptakan oleh Ghea Indrasari seolah menegaskan serta memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Atas nama jiwa yang telah hancur, aku akan kembali untuk membalasmu, biar kau tahu rasanya tersiksa, kini giliranmu menderita. Sungguh sebuah lirik yang tak hanya puitis, melainkan ironis.

0 komentar:

Posting Komentar