Senin, 04 Agustus 2025

KAMPUNG KERAMAT

KAMPUNG KERAMAT

Dalam sebuah adegan, protagonis utama dalam Kampung Keramat, Erlan (Naufal Samudra) seorang mahasiswa kedokteran yang tengah menjalani koas dibayangkan pada sebuah fakta bahwa sang adik, Maya (Sephia Amanda) baru saja mengalami kecelakaan, membuatnya harus dirawat secara intensif. Sang ibu, Ruth (Dewi Amanda) menolak keras-hingga menyalahkan Erlan yang tak karena sebagai dokter. Ia pun memutuskan untuk membawa Maya ke kampung kakeknya, Jabo (Egi Fedly) yang bernama Kampung Bekandang yang di dalamnya terdapat sebuah Keramat.
Sama seperti manusia normal pada umumnya, respon Erlan pun mewakili kebanyakan manusia yang berpikir dan bertindak secara realis. Jabo eksklusif membawa Maya ke kampung karena ia meyakini sakit yang diderita Maya bukanlah sakit biasa, melainkan berasal dari pengaruh makhluk gaib. Erlan Sontak Berujar “Di zaman modern seperti ini masih percaya dengan hal begitu?”
Dialog tersebut diulang hingga tiga kali. Entah apa yang ada di pikiran penulis sekaligus sutradara, Bram Ferino (Buyut, Tari Kematian, Diwe: Hutan Larangan) yang seolah-olah berpendapat bahwa penonton belum tentu dapat memahami apa yang terjadi dan dengan bangga menampilkan sebuah benturan antara pola pikir modern versus pola pikir kolot dari kedua lintas generasi secara dangkal, sebatas berjalan di permukaan tanpa adanya sebuah kedalaman.
Begitu pula dengan saya yang mulai jengah bahkan lelah mencermati apa yang akan menimpa para karakternya yang sedari adegan kerasukan yang luar binasa bak menyebarkan gaya renang batu itu hanya mengundang dahi yang kian mengerut. Tunggu sampai kedatangan mereka ke kampung keramat dan nantinya akan disambut oleh sekelompok zombie yang tampak rata (ya, rata karena menggunakan stoking kaki).
Entah itu perihal desain produksi hingga tata suara tak ada yang benar-benar mumpuni. Seolah-olah filmnya dibuat asal jadi dengan kedok horor yang sebatas ada dalam niatan saja. Bahkan penampilan dua pemain senior, Yati Surachman dan Egi Fedly pun tak kuasa menyelamatkan filmnya dari jurang kebusukan yang sudah tak termaafkan lagi.
Kampung Keramat memiliki cerita yang begitu pembohong, saking pembohongnya sulit mencerna apa yang telah saya saksikan di layar. Mulai dari penampilan makhluk bernama Keramat yang dapat bertransformasi menjadi jenglot hingga kawanan zombie yang hobinya sekadar mendorong manusia tanpa pernah mencoba untuk menggigit bahkan berkomunikasi. Sungguh sebuah pemandangan lain daripada yang lain.
Bergulir selama 78 menit, Kampung Keramat ditutup oleh sebuah kilas balik luar binasa dengan transisi yang sangat kasar. Belum pernah ada dalam sejarah sebuah flashback yang melibatkan bengkel motor beserta montirnya. Konklusinya pun menampilkan kembali sebuah keajaiban, seolah hidayah telah turun dari Sang Maha Kuasa menuju salah satu karakternya. Dari sini saya pun mengharapkan hal yang sama, meminta hidayah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tidak terjebak dalam tontonan horor berkedok siksa dunia.

0 komentar:

Posting Komentar